Senin, 28 November 2016

Aktualisasi Ketuhanan Yang Maha Esa

          Manusia hidup pada jaman dimana semuanya berubah dengan cepat dan hampir lupa kalau hidupnya tinggal beberapa tahun saja. Hal ini sangat memprihatinkan melihat kenyataan, masih banyak manusia-manusia yang sebenarnya merupakan rahmat (insan ruhani) yang sudah dengan sangat baik diciptakan oleh Allah SWT. untuk memiliki kebebasan berpendapat maupun hak untuk bebas dari belenggu tubuh dan kepalsuan nyata hukum prosedural yang manipulatif.
          Setiap manusia, khususnya muslim, seharusnya bisa berpegah teguh pada kebenaran mutlak yang terdapat pada Al-Qur’an. Karena jika ditafsir dan dipahami lebih jauh, seorang muslim apalagi untuk generasi baru yang masih seperti hidup dalam kekangan jaman dan hukum-hukum berprosedur layaknya hanya hukumlah ‘hidup dan mati’ kita, sudah barang pasti hanya Al-Qur’an penuntun jalan serta pembuka bagi setiap jiwa yang haus akan keadilan.
          Dalam salah satu hadist Riwayat Bukharu yaitu; “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah SWT. pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungannya, yaitu (salah satunya)....pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah....” dan Hadist Riwayat Tirmidzi yaitu; “Tidak akan bergeser kaki seorang manusia dari sisi Allah SWT. pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya lima perkara ; tentang umurnya, untuk apa dihabiskan? Tentang masa mudanya, untuk apa digunakan? Hartaya, darimana diperoleh dan kemana dibelanjakan? Ilmunya, bagaimana dia mengamalkannya?” Sudah jelas bahwa generasi muda haruslah taat kepada Allah SWT. dan menjauhi setiap larangannya dan mencaru sumber pengetahuan sebanyak-banyaknya, memiliki prinsip agar tidak terjadi ketidaksinambungan dengan Al-Qur’an.
          Sebenarnya cukup rumit untuk mempraktikkan itu semua, karena lingkungan juga ikut mempengaruhi pola pikir kita. Menurut saya, generasi muda sekarang bingung untuk menentukan mana yang baik dan mana yang benar karena memang semuanya berbaur menjadi satu. Diperlukan suatu dorongan besar dari pemuda itu sendiri ataupun orang tua dan guru pembimbing. Apalagi ditambah dengan bertambah banyaknya logika-logika hukum yang ditata sedemikian rupa yang membuat pikiran kita seperti teraduk-aduk, karena mungkin iman kita belum kuat.
          Al-Qur’an surat Ibrahim (14) ayat 24-27, misalnya, disini seorang mukmin/muslim agar membiasakan diri menggunakan ucapan yang baik, yang berfaedah bagi dirinya sendiri dan bermanfaat juga untuk orang lain. Karena ucapan seseorang menunjukkan watak dan kepribadiannya serta adab dan sopan satunnya. Seorang muslim yang mendapat ilmu pengetahuan yang telah diperoleh melalui seseorang adalah karunia dan rahmat dari Allah SWT.
          Iman mendorong seseorang untuk senantiasa menggunakan ucapan yang baik dan begitu juga sebaliknya, ucapan yang baik itu dapat memelihara keteguhan iman seseorang. Dan Allah SWT. menegaskan bahwa Dia membiarkan sesat orang-orang yang dzalim dan yang suka berbuat menurut kehedaknya sendiri.
          Lalu di surat Al-Maidah (5) ayat 3, yaitu ; “.......Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu......” Maksud dari surat ini adalah sebagai muslim yang telah sempurna agamanya, telah dicukupkan nikmat-nikmat dan telah diridhai maka dari itu harus lebih bisa menyortir apa-apa jangan langsung diterima begitu saja.
          Jadi inti dari semua adalah muslim sebagai manusia rahmatan’alalamin yaitu rahmat atau urusan dari Allah SWT. telah diciptakan sesempurna mungkin, memiliki gerak bebas dalam berpendapat maupun akal dan seyogyanya mampu mencari pengetahuan dan wawasan sebanyak-banyaknya dan mana saja dengan memperdalam ilmu agama agar tidak terbelenggu dalam ketidaktahuan yang menyesatkan diri sendiri. Mereka juga harus memilki pendirian pada dirinya sendiri, konsisten dalam mengambil tindakan sehingga dia memiliki pribadi yang jujur dan terkadang memiliki tutur kata yang baik apalgi dalam menyampaikan kebaikan, berkorban demi tegaknya keadilan sehingga hanya kebenaran-kebenaran saja yang keluar dari mulutnya.
          Solusi yang tepat adalah datangnya dari diri sendiri karena memang dari diri sendirilah semua yang baik-baik dapat terwujud, sertakan dengan niat. Pelajari dan temukan pengetahuan dan ilmu Islam secara bersamaan. Bila suatu saat hukum di Indonseia yang sudah dibuat betul-betul itu dan tidak sesuai dengn yang ada di aturan Islam maka kita harus bertindak tanpa malu karena kita tahu mana yang benar juga krena kita sudah kuasai ilmunya, maka kita tidak perlu takut.  

Uraian Visi Untirta Berdasarkan Konsep Filosofis Immanuel Kant

SYIFA IFTIKHAR
NIM : 2285160033
Filsafat Pendidikan

Visi dari Untirta adalah ‘Terwujudnya Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Maju, Bermutu, Berkarakter dan Berdaya Saing dalam Kebersamaan Tahun 2025.’ Dimana berdasarkan visi tersebut ada penjelasannya. Pertama adalah ‘Maju’. Mengandung pengertian terwujudnya kondisi Untirta yang mengalami pertumbuhan, peningkatan dan perubahan secara berkelanjutan. Kedua adalah ‘Bermutu’. Mengandung pengertian tercapainya kualitas layanan yang memberikan kepuasan kepada pelanggan, lulusan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang menguasai Iptek (hard skill) dan, mampu berkolaborasi dan membangun jejaring (networking) dan berkomunikasi atau soft skill menuju kemajuan bangsa.
Ketiga adalah ‘Berdayasaing’. Mengandung pengertian terwujudnya suatu dorongan pada diri pendidik (dosen, tenaga kependidikan dan lulusan untuk memenangkan suatu persaingan (kompetisi), lebih berprestasi, memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif, berupaya lebih baik dari yang lain, tahan mmenghadapi berbagai kondisi, hambatan dan tantangan serta mampu beradaptasi dengan lingkungan. Keempat adalah ‘Berkarakter’. Mengandung arti tercapainya tenaga pendidik dan kependidikan serta lulusan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa yang menguasai iptek dengan menjunjung tinggi Kejujuran, Keadilan, Amanah, Berwibawa, Adil, Religius dan Akuntabel (JAWARA). Dan yang terakhir adalah dalam ‘Kebersamaan’. Dalam mewujudkan misi Untirta perlu terbangun komunikasi kerja di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa lebih mengutamakan semangat gotong royong, kolegial, saling pengertian, saling menghargai dan saling menghormati, sebagai sebuah tim kerja yang menjunjung tinggi solidaritas dan soliditas.
Dengan penguraian dari visi Untirta tersebut, dapat disederhanakan dalam :
1.      Apa yang saya harapkan? (What may I hope?) Harapan saya adalah semoga visi tersebut dapat terwujud secepatnya serta benar adanya.
Karena terkadang visi-visi seperti itu memiliki kemajuan yang lambat untuk diwujudkan. Tetapi, jika dilihat dari Untirta yang sekarang, (berhubung saya adalah mahasiwa baru) sudah banyak mengalami kemajuan. Mulai dari bangunan di kampus A, Pakupatan sudah benar-benar bagus dan halamannya sangat luas. Karena disana ada lima Fakultas yaitu, FEB (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan), FAPERTA (Fakultas Pertanian), FH (Fakultas Hukum), dan FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik). Ruang kelas yang memadai untuk mahasiswa. Tetapi untuk masjid, menurut saya kurang luas karena banyaknya mahasiswa muslim yang shalat disana setiap harinya sehingga sering penuh sesak. Begitupun pasokan air yang terkadang kurang memadai. Untuk di kampus B, Cilegon. Kampus ini hanya khusus mahasiswa Teknik dan menurut saya, disana sangatlah maju dalam aspek bangunannya. Adanya peningkatan dan perubahan yang nyata. Semua tertata dengan apik. Saya berharap hal yang sama untuk kampus C, Ciwaru dan juga agar seluruh mahasiswa Untirta dapat melanjutkan visi dari Untirta tersebut serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
2.      Apa yang dapat saya ketahui? (What can I know?)
Yang dapat saya ketahui dari visi tersebut adalah, kita sebagai mahasiswa Untirta, khususnya saya dari jurusan Bimbingan dan Konseling harus bahu membahu membuat visi tersebut nyata. Di jurusan BK ini, saya dituntut harus bisa melakukan perubahan. Memiliki keterampilan lain sekreatif mungkin karena makin kedepan, daya saing di Indonesia semakin ketat dan siapa yang lebih unggul, dialah yang satu langkah di depan. Begitupun dengan karakter. Jurusan Bimbingan dan Konseling, tidak hanya memanfaatkan ilmu sebagai pegangan. Tetapi karakter juga penting. Karena kita hidup bersosialisasi dengan masyarakat luas yang memiliki sifat serta kebudayaan masing-masing sehingga singkatan JAWARA, haruslah diterapkan dengan sangat baik, dimulai dari diri kita sendiri.
3.      Apa yang seyogyanya saya lakukan? (What should I do?)
Yang seyogyanya saya lakukan adalah sebagai mahasiwa Untirta jurusan Bimbingan dan Konseling, mengikuti kegiatan positif seperti ekstrakulikuler di kampus, mengikuti organisasi, sopan santun, menjaga keramahan di semua tempat, berdaya saing yang sehat, menjaga nama baik kampus, menjalankan peraturan dan menaati tata tertib yang ada. Serta tidak melanggarnya. Harus ikut serta memajukan Untirta agar bisa lebih baik lagi dari sebelumnya.
4.      Apa/siapakah manusia itu? (What is man?)

Manusia adalah ciptaan Allah SWT. yang sudah sangat sempurna. Mereka memiliki akal dan perasaan. Mereka harus bisa menyejajarkan antara akal dan perasaan. Walau kini, masih banyak manusia yang lebih menggunakan akal dibanding perasaan. Sifat liar yang hanya berlandaskan akal seperti halnya hewan sudah sering terjadi akhir-akhir ini. Perasaan hanya dimiliki oleh manusia-manusia pemikir yang bijaksana. Dan akhirnya, terjadi banyak kesenjangan, penyimpangan dan juga lupa akan tata krama. Sebagai mahasiswa Untirta dan juga bertindak sama seperti manusia yang lainnya di luar lingkungan kampus, kita harus mengenal siapa diri kita sebenarnya. Lewat bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain, menggunakan sopan santun dengan benar, dan jangan lupakan etika. Karena itu sangatlah penting. Di jurusan Bimbingan dan Konseling, kita diajarkan untuk tidak langsung men-judge seseorang. Terlebih hanya dengan sekadar melihat. Kita perlu cermat, serta teliti dan tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Karena kembali ke hakekatnya, sifat dan tindakan setiap manusia sangatlah berbeda. 

Pendidikan Karakter Sudah Ada Sejak Kita Masih Kecil


“Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda.” – Robert Fulghum. 

Pada saat usia anak 3-5 tahun, otak anak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak anak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa Golden Age. Sebuah penelitian yang dilakukan ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.
Memperoleh pendidikan merupakan hak setiap anak. Sebuah bangsa tidak akan berkembang dan maju apabila penduduknya tidak memiliki pendidikan yang baik. Seperti judulnya, memang pendidikan sudah ada sejak kita masih kecil. Terutama pendidikan karakter. Dimulai dari, contoh ada seorang ibu yang sedang mengandung, ibu tersebut membacakan cerita dan memberitahunya secara tidak langsung makna serta kebaikan-kebaikan apa yang terkandung dalam cerita tersebut.
          Menurut Mae Chu Chang, seorang ahli pendidikan dari Bank Dunia Indonesia, dia beranggapan bahwa investasi pendidikan tertinggi adalah pada usia dini karena dapat menghasilkan manfaat yang jauh lebih stabil dan baik ketimbang investasi pada tingkat usia dijenjang pendidikan yang lainnya misalnya SD, SMP, SMA, SMK, STM atau tingkat Mahasiswa sekalipun. Alasannya karena awal pembentukan karakter seseorang mulanya terbentuk pada sistem pendidikan anak usia dini dan bukan pada usia yang telah beranjak dewasa.
          Pendidikan karakter ini sangat penting karena selain dapat membentuk pribadi anak tersebut, seorang anak menjadi tahu mana yang baik dan yang tidak. Pola asuh dari orang tua sangat ikut andil. Maka dari itu sebagai orang tua, sudah sepatutnya kita berikan contoh itu dalam sikap dan perbuatan serta kata-kata. Karena anak akan cenderung lebih mengikuti perbuatan dibanding kata-kata. 

          Berikut adalah kutipan puisi yang diungkapkan Dorothy Law Nolte, Ph. D, seorang penulis puisi pendidikan asal Amerika yang mana merupakan seorang pendidik dan ahli konseling keluarga. Nama aslinya adalah Dorothy Louise, beliau lahir pada 12 Januari 1924 dan meninggal 6 Nopember 2005. Kutipan puisinya (sudah dialih bahasa ke Bahasa Indonesia) sebagai berikut :
          Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
          Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
          Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
          Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
          Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
          Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
          Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya.
Buku berisi puisi karya Dorothy Law Nolte.
Sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya dengan memukul dan memberikan tekanan yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri, minder, penakut, dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Hal ini secara tidak langsung akan menghambat perkembangan karakter anak tersebut ketika mencapai masa dewasa. Misalnya saja seperti anak tersebut takut mengambil resiko padahal semuanya memiliki resiko tersendiri justru tidak melakukan apa-apa yang nanti akan menimbulkan resiko.
Berikut ada tiga cara membentuk karakter anak berkualitas yang dituturkan oleh Prof. Dr. Arief Rachman, M. Pd yang juga merupakan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO :
1.     Orang tua Harus Konsisten yaitu sebaiknya sikap orang tua juga mesti sesuai dengan aturan yang sedang dijalankan. Usahakan jangan pernah ada tarik ulur dengan aturan yang sudah diterapkan.
2.    Berkelanjutan Dalam Membangun Karakter Anak yaitu berkesinambungan dalam hal ini adalah proses membimbing, mengasuh serta mendidik untuk dapat membentuk karakter anak tersebut. Hal ini dikarenakan karakter anak akan mulai terbentuk dengan sendirinya. Dan juga harus ‘mengupdate’ informasi yang berkaitan dengan pendidikan anak karena mendidik anak ketika masih balita dan remaja berbeda.
3.    Lakukan Dengan Konsekuen yaitu ketika anak salah maka hukumlah dengan tentu saja hukuman yang mendidik serta memberinya pujian atau hadiah ketika anak tersebut berbuat suatu kebaikan.
Namun, bukan hanya dari keluarga itu sendiri. Lingkungan juga mempengaruhi perkembangan karakter seorang anak. Sebagai contoh, saat di sekolah, terkadang anak suka meniru gaya atau ucapan yang dilontarkan teman-teman sebayanya. Guru juga sebagai pendidik penting perannya dalam membentuk karakter anak. Mulai dari guru di PAUD, TK, dan SD.
Kesimpulannya adalah pendidikan karakter sudah sepatutnya orang tua ajarkan semejak anaknya masih balita karena selain merupakan masa keemasan, pendidikan karakter untuk anak itu juga dapat membantunya untuk berkembang lebih baik apalagi saat menuju masa dewasanya. Lakukanlah dengan konsisten, berkelanjutan dalam membangun karakter, serta konsekuen dan juga jagalah sikap dan kata-kata yang akan orang tua sebut karena anak pada dasarnya akan lebih banyak mencontoh perbuatan dibanding kata-kata. Jika dari keluarga, sekolah, dan lingkungan dengan baik bekerja sama membentuk suatu karakter ‘baik’ untuk seorang anak, maka sudah dipastikan karakter anak tersebut sempurna.       

Semoga bermanfaat :)

Minggu, 27 November 2016

Lulusan Sarjana Banyak yang Menganggur, Apa Alasannya?

          





        Pernahkah terpikir oleh kita, para mahasiswa mau kemana nanti setelah lulus dari perguruan tinggi? Karena mengingat pasti banyak sekali fresh graduate yang bertebaran dari seluruh pelosok negeri. Apakah mereka benar-benar akan mendapat pekerjaan sesuai dengan jurusan yang selama ini mereka tekuni? Bisa iya bisa tidak. Ada beberapa alasan banyaknya lulusan sarjana yang menganggur. Di bawah ini adalah penjelasannya.
Yang pertama, nilai bagus tidak menjamin. Well, memiliki IPK tinggi, siapa sih yang tidak mau? Selagi bisa membuat orang tua, saudara, dan teman-teman bangga, IPK tinggi membuktikan bahwa kita tidak sia-sia menempuh pendidikan selama kurang lebih empat tahun di perguruan tinggi. Akan tetapi, setelah itu apa? Perusahaan akan merekrut calon pekerjanya dengan siapa saja yang memiliki IPK diatas 3,50? Menyingkirkan calon-calon pekerja lain yang IPKnya tidak seberapa tetapi diam-diam memiliki keterampilan luar biasa, jauh di atas kita? Sepertinya tidak adil.
Mereka yang ‘terjebak’ di nilai yang nyaris sempurna itu sebenarnya bisa dengan mudah mendapat pekerjaan. Tetapi bagaimana bila nasib berkata lain? Dan dia ditempatkan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusan yang tekuni. Untuk contoh, ada saudara dari teman saya dia jurusan Ilmu Gizi di salah salah satu perguruan tinggi negeri. Setelah lulus, dengan (tentu saja) IPK diatas 3,50 lebih, serta dinyatakan cumlaude, saudara teman saya itu melamar pekerjaan. Guess what? She got it, perfectly. Tapi, tahu pekerjaan apa itu? Penyembuhan mental pasien setelah pasien tersebut dirawat. Sangat jauh bukan dari jurusan yang saudara teman saya itu tekuni? Nah, disinilah orang-orang yang ber-IPK terbatas, biasanya beruntung. Dalam artian, mereka ternyata memiliki keterampilan luar biasa yang dahulu mereka kerjakan di waktu luang selain tugasnya sebagai mahasiswa.
Ada yang iseng membetulkan mesin cuci rusak, membuat desain-desain di komputer, menggambar karikatur tokoh misalnya, menulis cerita di laptop, mengedit foto, hunting foto, berdagang kecil-kecilan, memasak dan masih banyak lagi lainnya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita pelajari lebih jauh apa hobi kita dan pentingnya memiliki keterampilan kreatif lainnya. Siapa tahu justru dari kedua hal itulah kita bisa ‘keluar’ dari rumitnya dunia kerja yang sekarang ini semakin kompetitif dan selektif disaat yang sama.
Kedua, kurang koperatif. Maksudnya, sewaktu kita kuliah pastinya kita dituntut untuk mengerjakan apa-apanya sendiri walaupun tidak menutup kemungkinan ada saatnya bekerja dalam kelompok. Namun, ketika kita sudah bekerja nanti, kebanyakan banyak yang menuntut kita untuk bekerja dalam tim dan hal itu tak jarang membuat kita tak terbiasa. Belum lagi banyaknya tekanan.
Ketiga, banyaknya sarjana yang lulus tiap tahun tetapi lowongan kerja yang dibutuhkan lebih menerapkan untuk yang lulusan SMA/SMK. Lalu, terlalu banyak lulusan S1 jurusan sosial, seperti hukum, ekonomi, manajemen, sastra dan lain sebagainya. Padahal kemungkinannya untuk aplikasi di kehidupan yang sesungguhnya hanya beberapa yang benar-benar bekerja sesuai dengan jurusan yang tersebut tadi. Akhirnya banyak yang menganggur.
Keempat, terlalu idealis dan tidak mau susah-susah bekerja dari bawah. Memang benar kita berpikir kita pasti lulus darisini langsung bisa bekerja sesuai dengan jurusan yang kita tekuni, idealis bukan? Tetapi, bagaimana jika awalnya kita ditempatkan di pekerjaan yang lain? Yang berbeda seratus delapan puluh derajat? Kita harus tetap menerimanya dengan ikhlas dan berlapang dada. Jangan terlalu konyol untuk bersedih, siapa tahu itu merupakan awal dan sebagai pembuka jalan bagi kesuksesan kita.
Kelima, kurangnya lapangan kerja yang memadai. Hal ini sangat erat kaitannya dengan banyaknya sarjana-sarjana muda yang menganggur. Bagaimana tidak, semakin banyak lulusan sarjana yang lulus, seharusnya lapangan pekerjaannya juga harus seimbang agar tidak terjadi kesenjangan sosial dan pengangguran yang parah. Pertumbuhan ekonomi yang kurang bagus membuat industri dan perusahaan enggan melakukan ekspansi. Yang artinya kebutuhan tenaga kerja baru juga kurang. Idealnya, angka pengangguran sebaiknya 3%. Beruntung Indonesia hanya sekitar 5,81%. 

Keenam, tidak mau keluar dari daerah asal atau tidak mau keluar dari zona aman. Kemungkinan banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, seperti, suasana daerahnya, teman, sahabat, seseorang yang dekat dengan kita, orang tua, saudara, dan masih ada lagi. Memang sih wajar, tapi bagaimana kalau memang rejeki kita ada di daerah lain? Bukan di daerah yang kita tempati ini? Kita harus pintar-pintar beradaptasi dan mencoba segala peluang agar kita bisa maju tidak terus-menerus stuck di daerah asal kita tanpa ada hasil sama sekali. Lebih baik mana, disini tanpa hasil atau di tempat lain kita sukses?
Ketujuh, kurangnya informasi karena kita kekurangan koneksi serta malasnya mencari pekerjaan karena masih merasa ada orang tua. Koneksi disini tentu saja teman-teman. Terkadang, orang yang cepat diterima kerja nanti ialah orang yang pandai bergaul dan banyak temannya. Mereka yang akan diajak dulu bekerja. Sehingga kadang membuat kita malas untuk bekerja (karena merasa tidak dianggap), ditambah kita jarang membuka situs-situs lowongan kerja, apalagi kalau orang tua kita berada, makin malas kita mencari pekerjaan yang akhirnya tambah lagi satu penganggur. 

Kedelapan, lulusan dari sarjananya sendiri yang lulus tetapi benar-benar tidak memiliki keahlian atau keterampilan khusus yang bisa menonjolkan dirinya. Mereka hanya bermodalkan teori. Atau mereka yang tidak peduli. Apalagi dari tahun ke tahun arus globalisasi makin cepat dan berkembang pesat sehingga dibutuhkan lulusan-lulusan profesional di setiap jurusannya.     
Kesimpulannya, tentu saja kembali seperti yang diawal, sebagai seorang sarjana yang baru lulus kita jangan cepat bangga, bangga sih, tapi ingat, justru kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai dan kita tidak boleh pantang menyerah, tetap semangat walaupun nanti kita bekerja bukan sesuai dengan jurusan yang kita tekuni, bisa saja itu peluang untuk kesuksesan kita nanti. Dan juga, tidak ada salahnya untuk mencoba keterampilan-keterampilan lain agar kita memiliki kualitas lain selain akademis.

Semoga bermanfaat :)  


Jumat, 25 November 2016

Upaya Pendidikan Dalam Mengantisipasi Masa Depan

          Kita pasti sudah tahu bagaimana masa depan itu terjadi bahkan dengan berandai-andai ataupun menerkanya sekalipun. Tapi apa yang terjadi dengan pendidikan, jika ada karakterisitik umum yang merupakan petunjuk penting bagi masyarakat di masa depan itu sendiri? Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut :
A.  Kecendrungan Globalisasi
    Maksud dari kecendrungan globalisasi adalah gelombang globalisasi menerpa seluruh aspek kehidupan dan penghidupan manusia. Dunia seakan-akan tidak perlu lagi sebuah batas-batas Negara dikarenakan semua informasi sudah dengan mudah ditaklukan dengan internet. Apapun bentuk informasi yang kita butuhkan entah itu tulisan, gambar, dan video mudah ditelusur.
    Ada empat gelombang globalisasi yang paling kuat dan juga sering kita alami di keseharian, seperti iptek, ekonomi, lingkungan hidup dan pendidikan. Iptek jelas sangat cepat perkembangannya, hal ini mempermudah kita untuk berkomunikasi dengan negara-negara lain. Ekonomi untuk globalisasinya terkesan memudahkan suatu negara agar menjalin kerjasama ekonomi antar negara yang mengakibatkan aktivitas ekspor-impor menjadi sering dilakukan. Lingkungan hidup, terfokusnya manusia pada arus globalisasi yang serba cepat dan praktis, sering membuat kita lupa pada lingkungan yang menjadi tempat kita hidup. Contoh kecil seperti banyaknya pohon yang harus ditebang demi kertas-kertas putih baru untuk pekerja kantoran, buku tulis, dan sebagainya. Terakhir pendidikan yang erat kaitannya dengan identitas bangsa termasuk budaya nasional di Indonesia.

B.  Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
    Aneh rasanya (apalagi membayangkan) jika di masa depan nanti perkembangan IPTEK tidak maju malah mundur. Tentu saja salah. IPTEK yang merupakan ujung tombak dari globalisasi itu sendiri tidak akan pernah mengalami kemunduran. Bidang ilmu pengetahuan dari hari ke hari makin berkembang ke arah yang lebih baik untuk memudahkan segala kerumitan-kerumitan yang dialami oleh seseorang lewat tangan-tangan kreatif si kreator. Lalu, bagaimana dengan teknologi? Teknologi membantu kita untuk bisa menemukan ‘jalan keluar’ dari sulitnya berkomunikasi dengan orang terdekat kita yang sedang berada di luar kota misalnya, maka terciptalah ide untuk membuat telepon yang sekarang sudah berubah bentuk menjadi kecil dengan nama baru yaitu handphone. Benda kecil ini multifungsi dan guna. Kemudian untuk berkunjung ke suatu tempat di suatu negara, sekarang saja kita bisa menggunakan pesawat yang daya tempuhnya singkat. Bayangkan bagaimana bentuk pesawat dan daya tempuhnya di masa depan nanti?
    Meskipun memang, tidak menutup kemungkinan ada dampak negatif dari kemajuan IPTEK tersebut. Seperti misalnya, dikenalnya ‘budaya merunduk’ yaitu kebiasaan yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat kita memainkan handphone dimanapun itu. Padahal entah disadari atau tidak, interaksi sosial yang akan terjadi akan semakin memudar.
    Hal seperti ini merupakan tantangan bagi diri kita sendiri. Apakah kita sanggup menerimanya dengan pemikiran yang lebih selektif (bahkan bisa menjadikan suatu peluang) ataukah ikut andil tanpa perlu berpikir dua kali lebih susah karena yang perlu kita lakukan hanya menggunakan teknologi tersebut se-enak yang kita mau. Tentu saja harus kita pikirkan lebih jauh lagi dimulai dari sekarang.

C.  Perkembangan Arus Komunikasi yang Semakin Padat dan Cepat
    Salah satu perkembangan iptek yang berkaitan langsung ialah informasi dan komunikasi utamanya satelit komunikasi (inilah alat terciptanya internet), komputer, dan lainnya. Sumber pesan mencakup aspek kehidupan manusia yaitu keseluruhan unsur-unsur kebudayaan, mulai dari sistem teknologi dan peralatan (Koentjaraningrat, 1974: 12).
    Meskipun begitu, arus komunikasi yang semakin padat dan cepat hanya terjadi di tempat-tempat tertentu saja, kebanyakan di kota. Padahal daerah-daerah selain kota atau bahkan desa terpencil pun butuh komunikasi yang serba cepat, hal ini membuat penyebarannya dirasakan kurang merata.

D.  Peningkatan Layanan Profesional
    Salah satu ciri penting masyarakat masa depan adalah meningkatnya kebutuhan layanan profesional dalam bidang kehidupan manusia. Karena perkembangan iptek yang makin cepat dan perkembangan arus informasi yang padat dan cepat, maka masyarakat masa depan semakin luas pula wawasan serta daya kritis yang mereka miliki.
    Maka dari itu dibutuhkan layanan-layanan profesional yang memperkerjakan manusia profesional pula. Sehubungan dengan kecendrungan permasalahan manusia yang memerlukan penanganan rutin dan sesegera mungkin. Profesional juga memiliki kode etik yang berfungsi ganda yaitu, perlindungan terhadap masyarakat agar memperoleh layanan bermutu dan perlindungan dan pedoman peningkatan kualitas anggota.

    Nah, itu tadi karakteristik umum yang merupakan petunjuk penting bagi masyarakat di masa depan. Lalu, apa upaya pendidikannya? Terutama dalam mengantisipasi masa depan?
    Pertama kita harus tahu bahwa mengantisipasi adalah persiapan yang perlu dilakukan. Pendidikan wajib mempersiapkan generasi baru yang masih fresh dengan ide-ide serta kreatifitas yang sanggup menghadapi tantangan di masa depan yang semakin menuntut kita berpikir secerdas mungkin. Bahkan dibutuhkan sebuah inovasi baru yang dapat mendobrak dunia khususnya bagi Indonesia sendiri tanpa perlu menghilangkan unsur-unsur kebudayaan yang sudah ada.
    Kedua, mengantisipasi itu dengan cara yang sederhana namun sebenarnya sudah terencana dengan matang dan bahkan penuh dengan wawasan-wawasan baru, atau istilahnya sering kita dengar, think globally but act locally.  Maksudnya, tidak jarang untuk memajukan bangsa sendiri kita harus pintar-pintar menyaring informasi penting yang berguna untuk dikembangkan tanpa perlu menggantikan atau menggeser nilai budaya Indonesia itu sendiri. Contohnya seperti, kurikulum 2013 (kurtilas). Tujuan dari program ini sebenarnya sangat baik. Kenapa begitu? Karena dengan kurtilas, kita dapat menggunakan teknologi terkini dengan mudah sehingga informasi yang kita dapatkan lebih banyak dan luas maka siswa diharapkan dapat menemukan jawaban atas pertanyaan mereka sendiri berdasarkan mata pelajaran bersangkutan, juga siswa diharapkan aktif dan guru hanya mengontrol bagaimana jalannya program tersebut. Sudah pasti unsur-unsur kebudayaan Indonesia mau tidak mau ikut andil tanpa perlu disingkirkan.
    Ketiga, pendidikan dalam upaya mengantisipasi masa depan diarahkan pada aspek yang paling berperan dalam individu (nilai dan sikap), pengembangan nilai dan budaya, dan terakhir pengembangan sarana pendidikan itu sendiri. Nilai dan sikap memegang peranan penting. Terutama dalam menentukan wawasan dan perilaku manusia. Karena nilai adalah norma yang harus ditaati oleh setiap manusia seperti, agama, hukum, adat istiadat dan moral. Pengembangan kebudayaan, karena dengan mengembangkan kebudayaan dari suatu bangsa dapat membuat nilai plus di negara-negara lain dan dampaknya banyak peluang yang bisa kita ambil dari sana. Pengembangan sarana pendidikan sangat penting agar proses belajar-mengajar bisa lebih produktif lebih dan lebih tetapi usahakan penyebaran pengembangannya merata hingga ke pelosok-pelosok daerah.

    Kesimpulan yang didapat adalah, dalam upaya pendidikan dalam mengantisipasi masa depan, sebelumnya kita harus tahu terlebih dahulu bagaimana karakteristik masyarakat di masa depan nanti dan hal-hal apa saja yang akan terjadi lalu dari pendidikan itu sendiri cara mengantisipasinya dengan mempersiapkan generasi baru yang penuh dengan ide-ide cemerlang, kemudian, bisa berwawasan seluas mungkin tetapi tindakannya sederhana dan tidak perlu menghilangkan aksen dari negara itu sendiri, terakhir dengan memperhatikan aspek nilai dan sikap, pengembangan kebudayaan, dan pengembangan sarana pendidikan.


Semoga bermanfaat :)

Rabu, 23 November 2016

Fungsi dan Peran Lembaga Pendidikan

          Pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Pendidikan juga berarti usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Terdapat tiga lingkungan atau wadah tempat pendidikan berlangsung, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Berdasarkan kenyataan dari peranan ketiga lembaga ini, Ki Hajar Dewantara menganggap ketiga lembaga pendidikan tersebut sebagai Tri Pusat Pendidikan. Dan mereka bertanggung jawab satu sama lainnya untuk menyiapkan generasi terbaik di masa mendatang. 


1.  Lembaga Pendidikan Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak dan sifatnya kodrati (mutlak dari Tuhan). Menjadi yang pertama dalam Tri Pusat Pendidikan karena, disinilah pertama kalinya seorang anak mendapat pendidikan, arahan, serta bimbingan mulai dari saat masih kecil hingga sudah dewasa sekalipun.
Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial maupun pendidikan individual. Mereka harus senantiasa melakukan usaha yang sebaik-baiknya untuk kemajuan anaknya, menuntun, mengajari dan sebagai pemberi contoh terbaik termasuk akhlak serta pandangan hidup keagamaan.
Fungsi dan peranan pendidikan keluarga ada lima yaitu :
a)    Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
Anak yang terlahir di dunia ini tidak berdaya dan tidak mengerti apa-apa. Penuh ketergantungan pada orang lain (John Lock ‘Tabulasrasa’).
Dengan demikian tergantung pada orang tua anak tersebut akan mengajari bagaimana anaknya.
b)   Menjamin kehidupan emosional anak
Untuk menjamin kehidupan emosional anak diperlukan suasana rumah yang penuh rasa cinta dan simpati sewajarnya, aman, tenteram serta rasa kepercayaan satu sama lain.  Merupakan faktor yang penting karena kehidupan emosional akan membentuk pribadi anak tersebut kedepannya, apakah anak tersebut akan cenderung cepat marah, tenang, ataupun tidak peduli sama sekali dengan orang lain. Bahkan kecerdasan emosional seseorang lebih harus diutamakan dibanding dengan kecedasan kognitif.  
c)    Menanamkan dasar pendidikan moral
Sikap dan perilaku orang tua dapat menjadi contoh bagi anak. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa, ‘rasa cinta, rasa bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan, teristimewa pendidikan budi pekerti, terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam sifat yang kuat dan murni, sehingga tak dapat pusat-pusat menyamainya.’ Hal ini membuktikan bahwa segala yang dikenal anak tersebut akan melekat pada orang-orang yang disenanginya untuk itulah sangat penting orang tua menjadi teman yang menyenangkan bagi anaknya sendiri.
d)   Memberikan dasar pendidikan sosial
Perkembangan benih-benih kesadaran sosial pada anak dapat dipupuk sedini mungkin, lewat kehidupan keluarga yang penuh rasa tolong-menolong, gotong-royong secara kekeluargaan, menolong saudara atau tetangga yang sakit, bersama-sama menjaga ketertiban, kedamaian, kebersihan dan keserasian dalam segala hal.
e)    Meletakkan daar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak
Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama, disamping sangat menentukan dalam menanamkan dasar-dasar moral, yang tak kalah pentingnya berperan besar dalam proses internalisasi dan transpormasi nilai-nilai keagamaan ke dalam pribadi anak.
Berikut adalah tanggung jawab dari keluarga :
a.    Adanya motivasi atau dorongan cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dan anak.
b.    Pemberian motivasi kewajiban moral sebagai konsekuensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya.
c.    Tanggung jawab sosial adalah bagian dari keluarga yang pada gilirannya akan menjadi tanggung jawab masyarakat, bangsa dan negara.
d.    Memelihara dan membesarkan anaknya.
e.    Memberikan pendidikan dengan berbagai ilmu pengetahuan dan    keterampilan yang berguna bagi kehidupan anak kelak, sehingga bila ia dewasa akan mampu mandiri.


2. Lembaga Pendidikan Sekolah
Yang dimaksud dengan pendidikan sekolah disini adalah pendidikan yang diperoleh seseorang di sekolah secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat (mulai dari Taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi).
     Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir dan berkembang secara efektif dan efisien dari dan oleh serta untuk masyarakat, merupakan perangkat yang berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarkat dalam mendidik warga negara.
     Fungsi dan peranan sekolah yaitu :
a.    Anak didik belajar bergaul sesama anak didik, antara guru dengan anak didik, dan antara anak didik dengan orang yang bukan guru (karyawan).
b.    Anak didik belajr menaati peraturan-peraturan sekolah.
c.    Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara.
d.    Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan. Fungsi sekolah dalam pendidikan intelektual dapat disamakan dengan fungsi keluarga dalam pendidikan moral.  
e.    Spesialisasi
Diperlukan bentuk spesial dari sekolah tersebut untuk menghadapi meningkatnya kemajuan masyarakat ialah semakin bertambahnya diferensiasi dalam tugas kemasyarakatan dan lembaga sosial yang melaksanakan tugas tersebut.
f.    Efisiensi
Karena sekolah banyak spesialisasinya di bidang pendidikan dan pengajaran, maka pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dalam masyarakat menjadi lebih efisien.
g.    Sosialisasi
Sudah tentu di sekolah adalah tempat untuk anak-anak bersosialisasi dengan teman sebayanya. Disini juga, anak dituntut untuk bisa beradaptasi.
h.    Konservasi dan transmisi kultural
Fungsi lain dari sekolah adalah memelihara warisan budaya yang ada di masyarakat dan kemudian disampaikan ke anak didik.
i.      Transisi dari rumah ke masyarakat
Ketika berada di keluarga, kehidupan anak serba menggantungkan diri pada orang tua, maka memasuki sekolah di mana ia mendapat kesempatan untuk melatih berdiri sendiri dan tanggung jawab sebagai persiapan sebelum ke masyarakat.



3. Lembaga Pendidikan Masyarakat
Masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang yang menempati suatu daerah, diikat oleh pengalaman-pengalaman yang sama, memiliki sejumlah persesuaian dan sadar akan kesatuannya, serta dapat bertindak bersama untuk mencukupi krisis kehidupannya.
Setelah lepas dari pendidikan keluarga dan juga pendidikan sekolah, maka anak tersebut akan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Menjadi tri pusat yang ketiga, pendidikan masyarakat disebut juga pendidikan informal (UU Nomor 20 Tahun 2003), berdampak besar bagi kelangsungan hidup anak tersebut. Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam bermasyarakat banyak sekali, meliputi pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, sikap, minat, pembentukan kesusilaan dan keagamaan.  
Hubungan masyarakat dengan pendidikan adalah sama-sama mempunyai peran dan fungsi edukatif, tersedianya berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by design) maupun yang dimanfaatkan (utility). Adapun ciri-ciri pendidikan ini sebagai berikut :
1.     Pendidikan diselenggarakan dengan sengaja di luar sekolah.
2.    Peserta umumnya mereka yang sudah tidak bersekolah atau drop out.
3.    Pendidikan tidak mengenal jenjang, dan program pendidikan untuk jangka waktu pendek.
4.    Peserta tidak perlu homogen.
5.    Ada waktu belajar dan metode formal, serta evaluasi yang sistematis.
6.    Isi pendidikan bersifat praktis dan khusus.
7.    Keterampilan kerja sangat ditekankan sebagai jawaban terhadap kebutuhan meningkatkan taraf hidup.
Sasaran dan program pendidikan nonformal :
1.     Para buruh dan petani
2.    Para remaja yang putus sekolah
3.    Para pekerja yang berketerampilan
4.    Golongan teknisi dan profesional
5.    Para pemimpin masyarakat
6.    Anggota masyarakat yang sudah tua.

Kesimpulannya adalah pendidikan merupakan hal terpenting yang perlu didapatkan oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak-anak hingga dewasa. Dasarnya, pendidikan sudah diajarkan langsung oleh orang tua kita sebagai ruang lingkup pendidikan keluarga, karena selain di keluarga, pendidikan juga dibutuhkan lewat pengajaran serta bimbingan dari sekolah sebagai jalur formal penyampaian pendidikan. Dan satu lagi pendidikan yang bisa kita dapatkan walaupun informal, yaitu, pendidikan masyarakat. Terkadang justru lewat pendidikan masyarakatlah seseorang bisa belajar banyak, mendapat pengetahuan dari ilmu-ilmu baru yang dia temukan sendiri berdasarkan pengalaman.
 

Minggu, 20 November 2016

Makna Tersirat dari Film The Devil Wears Prada







            Syukuri. Cintai. Nikmati. 
Adalah tiga kata yang tersirat setelah saya menonton film The Devil Wears Prada yang disutradarai oleh David Frankel. Sebuah film berkesan yang diangkat langsung dari novel berjudul sama yaitu The Devil Wears Prada karya Lauren Weisberger.
Saya disini tidak akan mereview ataupun membuat sinopsis dari film atau bukunya sekalipun, karena saya hanya akan menulis hikmah atau pesan yang bisa kita dapat dari film tersebut (karena kebetulan juga saya belum membaca novelnya).
So, langsung saja inti dari film unik di ide, jujur dalam membeberkan segalanya dan sirat makna itu adalah bagaimana seseorang bisa jadi diri dia apa adanya tanpa perlu takut untuk mengakui kalau memang tidak bisa sama seperti orang lain (yang ikonnya di film tersebut adalah perempuan). Saya sempat kagum dengan–hampir semuanya. Mulai dari ceritanya yang benar-benar brilian, pemainnya yang sangat tepat dengan karakternya masing-masing, tidak terlalu nyeleneh, langsung ke poin sehingga membuat film ini terkesan luar biasa epiknya.
Balik lagi ke tujuan utama nulis ini, (karena kayaknya malah mau ngereview filmnya ya?) oke, jadi maksud film tersebut sudah jelas mengarahkan kita untuk mensyukuri apa yang terjadi di depan mata kita. Jangan ngerasa kayak cuma kita satu-satunya manusia di dunia ini yang sangat susah, dan yang terpenting jangan suka ‘mengemis’ kata terima kasih pada orang lain. Maksudnya? Menerima balasan terima kasih dari orang lain yang sudah kita bantu itu memang wajar dan sepertinya sudah menjadi etika di Indonesia sendiri. Tapi, pernah gak sih (atau sering malah), kalian nemuin orang yang udah kalian bantu susah payah tapi sama dia gak digubris? Bahkan bilang ‘terima kasih’ pun enggak? Saya yakin kalian pasti pernah ngerasain itu. Nah, di film tersebut kita diajarkan untuk tidak terlalu mempermasalahkannya. Asalkan kita ikhlas mau membantu, itu sudah membuat nilai plus bagi diri kita sendiri. Urusan dia mau menghargai apa yang sudah kita lakukan dengan sepenuh hati, ya terserah. Biarkan Tuhan yang menilai. Emang gak enak sih, kita kayak gak dihargain gitu tapi please, take that easy :) you’re doing the right shot!
"Banyak orang rela mati-matian bekerja, sedangkan kau hanya tinggal kerja. Dan kau bertanya kenapa ia tidak mencium keningmu, dan memberi penghargaan atas kerjamu di akhir minggu? Bangunlah, sayang."

 
       Terus, ada lagi. Yep! Cintai pekerjaanmu yang sekarang. Ini penting banget. Emang sih, susah banget mencintai pekerjaan yang kita lakuin sekarang apalagi sepenuh hati. Kayak, apa sih yang sebenarnya kita lakuin sekarang? Bener gak sih yang lagi kita lakuin ini? Bakalan berguna gak sih buat kedepannya nanti? Bagaimana kalau–stop!  Kalian kebanyakan mikir. Gak usah mikir yang belum-tentu-nantinya-gimana-kedepannya-buat kita, lakukan saja yang-terbaik-yang-sudah-kita-lakukan menurut kita, sekarang. Berhenti mencampuri semuanya dengan pikiran-pikiran pesimitis nan negatif yang jatuhnya malah membuat kita berpikir dua kali lipat lebih runyam dibanding dengan membiarkan segalanya mengalir dengan sendirinya tanpa perlu memperhatikan semuanya lebih jauh. Namun, terkadang berpikir tentang masa depan itu perlu, tapi ada batasannya. Sebatas merencanakannya saja sudah cukup dan langsung bertindak tanpa perlu direnungi lebih dan lebih. Ada saatnya kita bertindak tanpa perlu takut langkah mana yang salah mana yang benar. Semua sempurna kalau kalian percaya kalian bisa melakukannya. As simple as that. 






Dan untuk yang terakhir, nikmati. Dari sekian menit durasi film tersebut, ada saat-saat dimana, istilahnya saya sebut shocking moment. Kenapa gitu? Karena ternyata lama kelamaan sang karakter utama tanpa sadar ’jatuh cinta’ dengan pekerjaan itu dan malah menikmatinya seiring berjalannya waktu, padahal tujuan utama sang karakter utama bekerja disana adalah bukan untuk menjadi bagian dari pekerjaan tersebut, melainkan ada maksud lain yang dia sebut sebagai ‘batu loncatan’. Terkadang kita sering menganggap hal ini sepele,  padahal menikmati setiap moment-moment itu dapat membuat pikiran kita menjadi lebih positif dan bahkan bisa membuat semuanya terasa begitu damai. Jangan pernah setengah-setengah dalam menikmati moment, karena belum tentu moment tersebut bisa terulang kembali.
Kesimpulannya bisa kita temukan disini bahwa untuk segala sesuatunya hendaknya kita syukuri tanpa pernah kenal mengeluh setiap saat. Biarkan diri kita bebas semau kita, sejadi apa kita tanpa perlu menggubris kata-kata orang yang bilang ke kita ini itu tidak pantas, kita jelek pakai ini, kita cocoknya itu, well, jangan dipikirkan. Anggap saja mereka hanya ingin kita mengangguk tidak peduli dengan ocehannya. Karena apa? Karena kita sudah mencintai diri kita sendiri, mencintai apa yang kita lakukan sekarang, mencintai dengan sepenuh hati apa yang di depan mata kita tanpa perlu ragu dalam menentukan masa depan karena kita sudah bertindak lebih jauh dan lebih cepat dari langkah kecil mereka. Kita sudah mencoba keluar dari zona nyaman kita tanpa sepengetahuan mereka. Kita juga yakin kita menikmatinya selalu, setiap saat tanpa rasa lelah. Mungkin memang saat ini adalah moment untuk kita jatuh dan bangkit. Bukan malah jatuh dan semakin terpuruk. Ingatlah untuk selalu untuk mensyukuri apapun lewat pekerjaan yang kita cintai sepenuh hati di depan mata dan lengkapnya, nikmatilah moment tersebut sebagai pelengkap dari sebagian kisah hidup kalian.
Semoga artikel ini bermanfaat. Dan saya sangat merekomendasikan untuk kalian agar meluangkan waktu menonton film The Devil Wears Prada ini. Saya pasti akan sangat menghargainya. Terima kasih!



Just keep trying everything!