Manusia
hidup pada jaman dimana semuanya berubah dengan cepat dan hampir lupa kalau
hidupnya tinggal beberapa tahun saja. Hal ini sangat memprihatinkan melihat
kenyataan, masih banyak manusia-manusia yang sebenarnya merupakan rahmat (insan
ruhani) yang sudah dengan sangat baik diciptakan oleh Allah SWT. untuk memiliki
kebebasan berpendapat maupun hak untuk bebas dari belenggu tubuh dan kepalsuan
nyata hukum prosedural yang manipulatif.
Setiap
manusia, khususnya muslim, seharusnya bisa berpegah teguh pada kebenaran mutlak
yang terdapat pada Al-Qur’an. Karena jika ditafsir dan dipahami lebih jauh,
seorang muslim apalagi untuk generasi baru yang masih seperti hidup dalam
kekangan jaman dan hukum-hukum berprosedur layaknya hanya hukumlah ‘hidup dan
mati’ kita, sudah barang pasti hanya Al-Qur’an penuntun jalan serta pembuka
bagi setiap jiwa yang haus akan keadilan.
Dalam
salah satu hadist Riwayat Bukharu yaitu; “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi
oleh Allah SWT. pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungannya, yaitu
(salah satunya)....pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah....”
dan Hadist Riwayat Tirmidzi yaitu; “Tidak akan bergeser kaki seorang manusia
dari sisi Allah SWT. pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya lima perkara
; tentang umurnya, untuk apa dihabiskan? Tentang masa mudanya, untuk apa
digunakan? Hartaya, darimana diperoleh dan kemana dibelanjakan? Ilmunya,
bagaimana dia mengamalkannya?” Sudah jelas bahwa generasi muda haruslah taat
kepada Allah SWT. dan menjauhi setiap larangannya dan mencaru sumber
pengetahuan sebanyak-banyaknya, memiliki prinsip agar tidak terjadi
ketidaksinambungan dengan Al-Qur’an.
Sebenarnya
cukup rumit untuk mempraktikkan itu semua, karena lingkungan juga ikut
mempengaruhi pola pikir kita. Menurut saya, generasi muda sekarang bingung
untuk menentukan mana yang baik dan mana yang benar karena memang semuanya
berbaur menjadi satu. Diperlukan suatu dorongan besar dari pemuda itu sendiri
ataupun orang tua dan guru pembimbing. Apalagi ditambah dengan bertambah
banyaknya logika-logika hukum yang ditata sedemikian rupa yang membuat pikiran
kita seperti teraduk-aduk, karena mungkin iman kita belum kuat.
Al-Qur’an
surat Ibrahim (14) ayat 24-27, misalnya, disini seorang mukmin/muslim agar
membiasakan diri menggunakan ucapan yang baik, yang berfaedah bagi dirinya
sendiri dan bermanfaat juga untuk orang lain. Karena ucapan seseorang
menunjukkan watak dan kepribadiannya serta adab dan sopan satunnya. Seorang muslim
yang mendapat ilmu pengetahuan yang telah diperoleh melalui seseorang adalah
karunia dan rahmat dari Allah SWT.
Iman
mendorong seseorang untuk senantiasa menggunakan ucapan yang baik dan begitu
juga sebaliknya, ucapan yang baik itu dapat memelihara keteguhan iman
seseorang. Dan Allah SWT. menegaskan bahwa Dia membiarkan sesat orang-orang
yang dzalim dan yang suka berbuat menurut kehedaknya sendiri.
Lalu
di surat Al-Maidah (5) ayat 3, yaitu ; “.......Pada hari ini telah Aku
sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah
Aku ridhai Islam sebagai agamamu......” Maksud dari surat ini adalah sebagai
muslim yang telah sempurna agamanya, telah dicukupkan nikmat-nikmat dan telah
diridhai maka dari itu harus lebih bisa menyortir apa-apa jangan langsung
diterima begitu saja.
Jadi
inti dari semua adalah muslim sebagai manusia rahmatan’alalamin yaitu rahmat
atau urusan dari Allah SWT. telah diciptakan sesempurna mungkin, memiliki gerak
bebas dalam berpendapat maupun akal dan seyogyanya mampu mencari pengetahuan
dan wawasan sebanyak-banyaknya dan mana saja dengan memperdalam ilmu agama agar
tidak terbelenggu dalam ketidaktahuan yang menyesatkan diri sendiri. Mereka juga
harus memilki pendirian pada dirinya sendiri, konsisten dalam mengambil
tindakan sehingga dia memiliki pribadi yang jujur dan terkadang memiliki tutur
kata yang baik apalgi dalam menyampaikan kebaikan, berkorban demi tegaknya
keadilan sehingga hanya kebenaran-kebenaran saja yang keluar dari mulutnya.
Solusi
yang tepat adalah datangnya dari diri sendiri karena memang dari diri
sendirilah semua yang baik-baik dapat terwujud, sertakan dengan niat. Pelajari dan
temukan pengetahuan dan ilmu Islam secara bersamaan. Bila suatu saat hukum di
Indonseia yang sudah dibuat betul-betul itu dan tidak sesuai dengn yang ada di
aturan Islam maka kita harus bertindak tanpa malu karena kita tahu mana yang
benar juga krena kita sudah kuasai ilmunya, maka kita tidak perlu takut.










