Senin, 28 November 2016

Aktualisasi Ketuhanan Yang Maha Esa

          Manusia hidup pada jaman dimana semuanya berubah dengan cepat dan hampir lupa kalau hidupnya tinggal beberapa tahun saja. Hal ini sangat memprihatinkan melihat kenyataan, masih banyak manusia-manusia yang sebenarnya merupakan rahmat (insan ruhani) yang sudah dengan sangat baik diciptakan oleh Allah SWT. untuk memiliki kebebasan berpendapat maupun hak untuk bebas dari belenggu tubuh dan kepalsuan nyata hukum prosedural yang manipulatif.
          Setiap manusia, khususnya muslim, seharusnya bisa berpegah teguh pada kebenaran mutlak yang terdapat pada Al-Qur’an. Karena jika ditafsir dan dipahami lebih jauh, seorang muslim apalagi untuk generasi baru yang masih seperti hidup dalam kekangan jaman dan hukum-hukum berprosedur layaknya hanya hukumlah ‘hidup dan mati’ kita, sudah barang pasti hanya Al-Qur’an penuntun jalan serta pembuka bagi setiap jiwa yang haus akan keadilan.
          Dalam salah satu hadist Riwayat Bukharu yaitu; “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah SWT. pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungannya, yaitu (salah satunya)....pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah....” dan Hadist Riwayat Tirmidzi yaitu; “Tidak akan bergeser kaki seorang manusia dari sisi Allah SWT. pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya lima perkara ; tentang umurnya, untuk apa dihabiskan? Tentang masa mudanya, untuk apa digunakan? Hartaya, darimana diperoleh dan kemana dibelanjakan? Ilmunya, bagaimana dia mengamalkannya?” Sudah jelas bahwa generasi muda haruslah taat kepada Allah SWT. dan menjauhi setiap larangannya dan mencaru sumber pengetahuan sebanyak-banyaknya, memiliki prinsip agar tidak terjadi ketidaksinambungan dengan Al-Qur’an.
          Sebenarnya cukup rumit untuk mempraktikkan itu semua, karena lingkungan juga ikut mempengaruhi pola pikir kita. Menurut saya, generasi muda sekarang bingung untuk menentukan mana yang baik dan mana yang benar karena memang semuanya berbaur menjadi satu. Diperlukan suatu dorongan besar dari pemuda itu sendiri ataupun orang tua dan guru pembimbing. Apalagi ditambah dengan bertambah banyaknya logika-logika hukum yang ditata sedemikian rupa yang membuat pikiran kita seperti teraduk-aduk, karena mungkin iman kita belum kuat.
          Al-Qur’an surat Ibrahim (14) ayat 24-27, misalnya, disini seorang mukmin/muslim agar membiasakan diri menggunakan ucapan yang baik, yang berfaedah bagi dirinya sendiri dan bermanfaat juga untuk orang lain. Karena ucapan seseorang menunjukkan watak dan kepribadiannya serta adab dan sopan satunnya. Seorang muslim yang mendapat ilmu pengetahuan yang telah diperoleh melalui seseorang adalah karunia dan rahmat dari Allah SWT.
          Iman mendorong seseorang untuk senantiasa menggunakan ucapan yang baik dan begitu juga sebaliknya, ucapan yang baik itu dapat memelihara keteguhan iman seseorang. Dan Allah SWT. menegaskan bahwa Dia membiarkan sesat orang-orang yang dzalim dan yang suka berbuat menurut kehedaknya sendiri.
          Lalu di surat Al-Maidah (5) ayat 3, yaitu ; “.......Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu......” Maksud dari surat ini adalah sebagai muslim yang telah sempurna agamanya, telah dicukupkan nikmat-nikmat dan telah diridhai maka dari itu harus lebih bisa menyortir apa-apa jangan langsung diterima begitu saja.
          Jadi inti dari semua adalah muslim sebagai manusia rahmatan’alalamin yaitu rahmat atau urusan dari Allah SWT. telah diciptakan sesempurna mungkin, memiliki gerak bebas dalam berpendapat maupun akal dan seyogyanya mampu mencari pengetahuan dan wawasan sebanyak-banyaknya dan mana saja dengan memperdalam ilmu agama agar tidak terbelenggu dalam ketidaktahuan yang menyesatkan diri sendiri. Mereka juga harus memilki pendirian pada dirinya sendiri, konsisten dalam mengambil tindakan sehingga dia memiliki pribadi yang jujur dan terkadang memiliki tutur kata yang baik apalgi dalam menyampaikan kebaikan, berkorban demi tegaknya keadilan sehingga hanya kebenaran-kebenaran saja yang keluar dari mulutnya.
          Solusi yang tepat adalah datangnya dari diri sendiri karena memang dari diri sendirilah semua yang baik-baik dapat terwujud, sertakan dengan niat. Pelajari dan temukan pengetahuan dan ilmu Islam secara bersamaan. Bila suatu saat hukum di Indonseia yang sudah dibuat betul-betul itu dan tidak sesuai dengn yang ada di aturan Islam maka kita harus bertindak tanpa malu karena kita tahu mana yang benar juga krena kita sudah kuasai ilmunya, maka kita tidak perlu takut.  



Referensi :


Tidak ada komentar:

Posting Komentar