Minggu, 27 November 2016

Lulusan Sarjana Banyak yang Menganggur, Apa Alasannya?

          





        Pernahkah terpikir oleh kita, para mahasiswa mau kemana nanti setelah lulus dari perguruan tinggi? Karena mengingat pasti banyak sekali fresh graduate yang bertebaran dari seluruh pelosok negeri. Apakah mereka benar-benar akan mendapat pekerjaan sesuai dengan jurusan yang selama ini mereka tekuni? Bisa iya bisa tidak. Ada beberapa alasan banyaknya lulusan sarjana yang menganggur. Di bawah ini adalah penjelasannya.
Yang pertama, nilai bagus tidak menjamin. Well, memiliki IPK tinggi, siapa sih yang tidak mau? Selagi bisa membuat orang tua, saudara, dan teman-teman bangga, IPK tinggi membuktikan bahwa kita tidak sia-sia menempuh pendidikan selama kurang lebih empat tahun di perguruan tinggi. Akan tetapi, setelah itu apa? Perusahaan akan merekrut calon pekerjanya dengan siapa saja yang memiliki IPK diatas 3,50? Menyingkirkan calon-calon pekerja lain yang IPKnya tidak seberapa tetapi diam-diam memiliki keterampilan luar biasa, jauh di atas kita? Sepertinya tidak adil.
Mereka yang ‘terjebak’ di nilai yang nyaris sempurna itu sebenarnya bisa dengan mudah mendapat pekerjaan. Tetapi bagaimana bila nasib berkata lain? Dan dia ditempatkan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusan yang tekuni. Untuk contoh, ada saudara dari teman saya dia jurusan Ilmu Gizi di salah salah satu perguruan tinggi negeri. Setelah lulus, dengan (tentu saja) IPK diatas 3,50 lebih, serta dinyatakan cumlaude, saudara teman saya itu melamar pekerjaan. Guess what? She got it, perfectly. Tapi, tahu pekerjaan apa itu? Penyembuhan mental pasien setelah pasien tersebut dirawat. Sangat jauh bukan dari jurusan yang saudara teman saya itu tekuni? Nah, disinilah orang-orang yang ber-IPK terbatas, biasanya beruntung. Dalam artian, mereka ternyata memiliki keterampilan luar biasa yang dahulu mereka kerjakan di waktu luang selain tugasnya sebagai mahasiswa.
Ada yang iseng membetulkan mesin cuci rusak, membuat desain-desain di komputer, menggambar karikatur tokoh misalnya, menulis cerita di laptop, mengedit foto, hunting foto, berdagang kecil-kecilan, memasak dan masih banyak lagi lainnya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika kita pelajari lebih jauh apa hobi kita dan pentingnya memiliki keterampilan kreatif lainnya. Siapa tahu justru dari kedua hal itulah kita bisa ‘keluar’ dari rumitnya dunia kerja yang sekarang ini semakin kompetitif dan selektif disaat yang sama.
Kedua, kurang koperatif. Maksudnya, sewaktu kita kuliah pastinya kita dituntut untuk mengerjakan apa-apanya sendiri walaupun tidak menutup kemungkinan ada saatnya bekerja dalam kelompok. Namun, ketika kita sudah bekerja nanti, kebanyakan banyak yang menuntut kita untuk bekerja dalam tim dan hal itu tak jarang membuat kita tak terbiasa. Belum lagi banyaknya tekanan.
Ketiga, banyaknya sarjana yang lulus tiap tahun tetapi lowongan kerja yang dibutuhkan lebih menerapkan untuk yang lulusan SMA/SMK. Lalu, terlalu banyak lulusan S1 jurusan sosial, seperti hukum, ekonomi, manajemen, sastra dan lain sebagainya. Padahal kemungkinannya untuk aplikasi di kehidupan yang sesungguhnya hanya beberapa yang benar-benar bekerja sesuai dengan jurusan yang tersebut tadi. Akhirnya banyak yang menganggur.
Keempat, terlalu idealis dan tidak mau susah-susah bekerja dari bawah. Memang benar kita berpikir kita pasti lulus darisini langsung bisa bekerja sesuai dengan jurusan yang kita tekuni, idealis bukan? Tetapi, bagaimana jika awalnya kita ditempatkan di pekerjaan yang lain? Yang berbeda seratus delapan puluh derajat? Kita harus tetap menerimanya dengan ikhlas dan berlapang dada. Jangan terlalu konyol untuk bersedih, siapa tahu itu merupakan awal dan sebagai pembuka jalan bagi kesuksesan kita.
Kelima, kurangnya lapangan kerja yang memadai. Hal ini sangat erat kaitannya dengan banyaknya sarjana-sarjana muda yang menganggur. Bagaimana tidak, semakin banyak lulusan sarjana yang lulus, seharusnya lapangan pekerjaannya juga harus seimbang agar tidak terjadi kesenjangan sosial dan pengangguran yang parah. Pertumbuhan ekonomi yang kurang bagus membuat industri dan perusahaan enggan melakukan ekspansi. Yang artinya kebutuhan tenaga kerja baru juga kurang. Idealnya, angka pengangguran sebaiknya 3%. Beruntung Indonesia hanya sekitar 5,81%. 

Keenam, tidak mau keluar dari daerah asal atau tidak mau keluar dari zona aman. Kemungkinan banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, seperti, suasana daerahnya, teman, sahabat, seseorang yang dekat dengan kita, orang tua, saudara, dan masih ada lagi. Memang sih wajar, tapi bagaimana kalau memang rejeki kita ada di daerah lain? Bukan di daerah yang kita tempati ini? Kita harus pintar-pintar beradaptasi dan mencoba segala peluang agar kita bisa maju tidak terus-menerus stuck di daerah asal kita tanpa ada hasil sama sekali. Lebih baik mana, disini tanpa hasil atau di tempat lain kita sukses?
Ketujuh, kurangnya informasi karena kita kekurangan koneksi serta malasnya mencari pekerjaan karena masih merasa ada orang tua. Koneksi disini tentu saja teman-teman. Terkadang, orang yang cepat diterima kerja nanti ialah orang yang pandai bergaul dan banyak temannya. Mereka yang akan diajak dulu bekerja. Sehingga kadang membuat kita malas untuk bekerja (karena merasa tidak dianggap), ditambah kita jarang membuka situs-situs lowongan kerja, apalagi kalau orang tua kita berada, makin malas kita mencari pekerjaan yang akhirnya tambah lagi satu penganggur. 

Kedelapan, lulusan dari sarjananya sendiri yang lulus tetapi benar-benar tidak memiliki keahlian atau keterampilan khusus yang bisa menonjolkan dirinya. Mereka hanya bermodalkan teori. Atau mereka yang tidak peduli. Apalagi dari tahun ke tahun arus globalisasi makin cepat dan berkembang pesat sehingga dibutuhkan lulusan-lulusan profesional di setiap jurusannya.     
Kesimpulannya, tentu saja kembali seperti yang diawal, sebagai seorang sarjana yang baru lulus kita jangan cepat bangga, bangga sih, tapi ingat, justru kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai dan kita tidak boleh pantang menyerah, tetap semangat walaupun nanti kita bekerja bukan sesuai dengan jurusan yang kita tekuni, bisa saja itu peluang untuk kesuksesan kita nanti. Dan juga, tidak ada salahnya untuk mencoba keterampilan-keterampilan lain agar kita memiliki kualitas lain selain akademis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar