Pernahkah terpikir oleh kita, para mahasiswa mau kemana nanti setelah lulus dari perguruan tinggi? Karena mengingat pasti banyak sekali fresh graduate yang bertebaran dari seluruh pelosok negeri. Apakah mereka benar-benar akan mendapat pekerjaan sesuai dengan jurusan yang selama ini mereka tekuni? Bisa iya bisa tidak. Ada beberapa alasan banyaknya lulusan sarjana yang menganggur. Di bawah ini adalah penjelasannya.
Yang
pertama, nilai bagus tidak menjamin. Well,
memiliki IPK tinggi, siapa sih yang
tidak mau? Selagi bisa membuat orang tua, saudara, dan teman-teman bangga, IPK
tinggi membuktikan bahwa kita tidak sia-sia menempuh pendidikan selama kurang
lebih empat tahun di perguruan tinggi. Akan tetapi, setelah itu apa? Perusahaan
akan merekrut calon pekerjanya dengan siapa saja yang memiliki IPK diatas 3,50?
Menyingkirkan calon-calon pekerja lain yang IPKnya tidak seberapa tetapi
diam-diam memiliki keterampilan luar biasa, jauh di atas kita? Sepertinya tidak
adil.
Mereka
yang ‘terjebak’ di nilai yang nyaris sempurna itu sebenarnya bisa dengan mudah
mendapat pekerjaan. Tetapi bagaimana bila nasib berkata lain? Dan dia
ditempatkan pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan jurusan yang tekuni. Untuk
contoh, ada saudara dari teman saya dia jurusan Ilmu Gizi di salah salah satu
perguruan tinggi negeri. Setelah lulus, dengan (tentu saja) IPK diatas 3,50
lebih, serta dinyatakan cumlaude,
saudara teman saya itu melamar pekerjaan. Guess
what? She got it, perfectly. Tapi,
tahu pekerjaan apa itu? Penyembuhan mental pasien setelah pasien tersebut
dirawat. Sangat jauh bukan dari jurusan yang saudara teman saya itu tekuni? Nah,
disinilah orang-orang yang ber-IPK terbatas, biasanya beruntung. Dalam artian, mereka ternyata memiliki
keterampilan luar biasa yang dahulu mereka kerjakan di waktu luang selain
tugasnya sebagai mahasiswa.
Ada
yang iseng membetulkan mesin cuci rusak, membuat desain-desain di komputer,
menggambar karikatur tokoh misalnya, menulis cerita di laptop, mengedit foto, hunting foto, berdagang kecil-kecilan,
memasak dan masih banyak lagi lainnya. Oleh karena itu, tidak ada salahnya jika
kita pelajari lebih jauh apa hobi kita dan pentingnya memiliki keterampilan
kreatif lainnya. Siapa tahu justru dari kedua hal itulah kita bisa ‘keluar’
dari rumitnya dunia kerja yang sekarang ini semakin kompetitif dan selektif
disaat yang sama.
Kedua,
kurang koperatif. Maksudnya, sewaktu kita kuliah pastinya kita dituntut untuk
mengerjakan apa-apanya sendiri walaupun tidak menutup kemungkinan ada saatnya
bekerja dalam kelompok. Namun, ketika kita sudah bekerja nanti, kebanyakan
banyak yang menuntut kita untuk bekerja dalam tim dan hal itu tak jarang
membuat kita tak terbiasa. Belum lagi banyaknya tekanan.
Ketiga,
banyaknya sarjana yang lulus tiap tahun tetapi lowongan kerja yang dibutuhkan lebih
menerapkan untuk yang lulusan SMA/SMK. Lalu, terlalu banyak lulusan S1 jurusan
sosial, seperti hukum, ekonomi, manajemen, sastra dan lain sebagainya. Padahal kemungkinannya
untuk aplikasi di kehidupan yang sesungguhnya hanya beberapa yang benar-benar
bekerja sesuai dengan jurusan yang tersebut tadi. Akhirnya banyak yang
menganggur.
Keempat,
terlalu idealis dan tidak mau susah-susah bekerja dari bawah. Memang benar kita
berpikir kita pasti lulus darisini langsung bisa bekerja sesuai dengan jurusan
yang kita tekuni, idealis bukan? Tetapi, bagaimana jika awalnya kita
ditempatkan di pekerjaan yang lain? Yang berbeda seratus delapan puluh derajat?
Kita harus tetap menerimanya dengan ikhlas dan berlapang dada. Jangan terlalu
konyol untuk bersedih, siapa tahu itu merupakan awal dan sebagai pembuka jalan
bagi kesuksesan kita.
Kelima,
kurangnya lapangan kerja yang memadai. Hal ini sangat erat kaitannya dengan
banyaknya sarjana-sarjana muda yang menganggur. Bagaimana tidak, semakin banyak
lulusan sarjana yang lulus, seharusnya lapangan pekerjaannya juga harus
seimbang agar tidak terjadi kesenjangan sosial dan pengangguran yang parah. Pertumbuhan
ekonomi yang kurang bagus membuat industri dan perusahaan enggan melakukan
ekspansi. Yang artinya kebutuhan tenaga kerja baru juga kurang. Idealnya, angka
pengangguran sebaiknya 3%. Beruntung Indonesia hanya sekitar 5,81%.
Keenam,
tidak mau keluar dari daerah asal atau tidak mau keluar dari zona aman. Kemungkinan
banyak faktor yang mempengaruhi hal ini, seperti, suasana daerahnya, teman,
sahabat, seseorang yang dekat dengan kita, orang tua, saudara, dan masih ada
lagi. Memang sih wajar, tapi
bagaimana kalau memang rejeki kita ada di daerah lain? Bukan di daerah yang
kita tempati ini? Kita harus pintar-pintar beradaptasi dan mencoba segala
peluang agar kita bisa maju tidak terus-menerus stuck di daerah asal kita tanpa ada hasil sama sekali. Lebih baik
mana, disini tanpa hasil atau di tempat lain kita sukses?
Ketujuh,
kurangnya informasi karena kita kekurangan koneksi serta malasnya mencari
pekerjaan karena masih merasa ada orang tua. Koneksi disini tentu saja
teman-teman. Terkadang, orang yang cepat diterima kerja nanti ialah orang yang
pandai bergaul dan banyak temannya. Mereka yang akan diajak dulu bekerja. Sehingga
kadang membuat kita malas untuk bekerja (karena merasa tidak dianggap),
ditambah kita jarang membuka situs-situs lowongan kerja, apalagi kalau orang
tua kita berada, makin malas kita mencari pekerjaan yang akhirnya tambah lagi
satu penganggur.
Kedelapan,
lulusan dari sarjananya sendiri yang lulus tetapi benar-benar tidak memiliki
keahlian atau keterampilan khusus yang bisa menonjolkan dirinya. Mereka hanya
bermodalkan teori. Atau mereka yang tidak peduli. Apalagi dari tahun ke tahun arus
globalisasi makin cepat dan berkembang pesat sehingga dibutuhkan
lulusan-lulusan profesional di setiap jurusannya.
Kesimpulannya,
tentu saja kembali seperti yang diawal, sebagai seorang sarjana yang baru lulus
kita jangan cepat bangga, bangga sih, tapi
ingat, justru kehidupan yang sebenarnya baru saja dimulai dan kita tidak boleh
pantang menyerah, tetap semangat walaupun nanti kita bekerja bukan sesuai
dengan jurusan yang kita tekuni, bisa saja itu peluang untuk kesuksesan kita
nanti. Dan juga, tidak ada salahnya untuk mencoba keterampilan-keterampilan
lain agar kita memiliki kualitas lain selain akademis.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar