Minggu, 20 November 2016

Makna Tersirat dari Film The Devil Wears Prada







            Syukuri. Cintai. Nikmati. 
Adalah tiga kata yang tersirat setelah saya menonton film The Devil Wears Prada yang disutradarai oleh David Frankel. Sebuah film berkesan yang diangkat langsung dari novel berjudul sama yaitu The Devil Wears Prada karya Lauren Weisberger.
Saya disini tidak akan mereview ataupun membuat sinopsis dari film atau bukunya sekalipun, karena saya hanya akan menulis hikmah atau pesan yang bisa kita dapat dari film tersebut (karena kebetulan juga saya belum membaca novelnya).
So, langsung saja inti dari film unik di ide, jujur dalam membeberkan segalanya dan sirat makna itu adalah bagaimana seseorang bisa jadi diri dia apa adanya tanpa perlu takut untuk mengakui kalau memang tidak bisa sama seperti orang lain (yang ikonnya di film tersebut adalah perempuan). Saya sempat kagum dengan–hampir semuanya. Mulai dari ceritanya yang benar-benar brilian, pemainnya yang sangat tepat dengan karakternya masing-masing, tidak terlalu nyeleneh, langsung ke poin sehingga membuat film ini terkesan luar biasa epiknya.
Balik lagi ke tujuan utama nulis ini, (karena kayaknya malah mau ngereview filmnya ya?) oke, jadi maksud film tersebut sudah jelas mengarahkan kita untuk mensyukuri apa yang terjadi di depan mata kita. Jangan ngerasa kayak cuma kita satu-satunya manusia di dunia ini yang sangat susah, dan yang terpenting jangan suka ‘mengemis’ kata terima kasih pada orang lain. Maksudnya? Menerima balasan terima kasih dari orang lain yang sudah kita bantu itu memang wajar dan sepertinya sudah menjadi etika di Indonesia sendiri. Tapi, pernah gak sih (atau sering malah), kalian nemuin orang yang udah kalian bantu susah payah tapi sama dia gak digubris? Bahkan bilang ‘terima kasih’ pun enggak? Saya yakin kalian pasti pernah ngerasain itu. Nah, di film tersebut kita diajarkan untuk tidak terlalu mempermasalahkannya. Asalkan kita ikhlas mau membantu, itu sudah membuat nilai plus bagi diri kita sendiri. Urusan dia mau menghargai apa yang sudah kita lakukan dengan sepenuh hati, ya terserah. Biarkan Tuhan yang menilai. Emang gak enak sih, kita kayak gak dihargain gitu tapi please, take that easy :) you’re doing the right shot!
"Banyak orang rela mati-matian bekerja, sedangkan kau hanya tinggal kerja. Dan kau bertanya kenapa ia tidak mencium keningmu, dan memberi penghargaan atas kerjamu di akhir minggu? Bangunlah, sayang."

 
       Terus, ada lagi. Yep! Cintai pekerjaanmu yang sekarang. Ini penting banget. Emang sih, susah banget mencintai pekerjaan yang kita lakuin sekarang apalagi sepenuh hati. Kayak, apa sih yang sebenarnya kita lakuin sekarang? Bener gak sih yang lagi kita lakuin ini? Bakalan berguna gak sih buat kedepannya nanti? Bagaimana kalau–stop!  Kalian kebanyakan mikir. Gak usah mikir yang belum-tentu-nantinya-gimana-kedepannya-buat kita, lakukan saja yang-terbaik-yang-sudah-kita-lakukan menurut kita, sekarang. Berhenti mencampuri semuanya dengan pikiran-pikiran pesimitis nan negatif yang jatuhnya malah membuat kita berpikir dua kali lipat lebih runyam dibanding dengan membiarkan segalanya mengalir dengan sendirinya tanpa perlu memperhatikan semuanya lebih jauh. Namun, terkadang berpikir tentang masa depan itu perlu, tapi ada batasannya. Sebatas merencanakannya saja sudah cukup dan langsung bertindak tanpa perlu direnungi lebih dan lebih. Ada saatnya kita bertindak tanpa perlu takut langkah mana yang salah mana yang benar. Semua sempurna kalau kalian percaya kalian bisa melakukannya. As simple as that. 






Dan untuk yang terakhir, nikmati. Dari sekian menit durasi film tersebut, ada saat-saat dimana, istilahnya saya sebut shocking moment. Kenapa gitu? Karena ternyata lama kelamaan sang karakter utama tanpa sadar ’jatuh cinta’ dengan pekerjaan itu dan malah menikmatinya seiring berjalannya waktu, padahal tujuan utama sang karakter utama bekerja disana adalah bukan untuk menjadi bagian dari pekerjaan tersebut, melainkan ada maksud lain yang dia sebut sebagai ‘batu loncatan’. Terkadang kita sering menganggap hal ini sepele,  padahal menikmati setiap moment-moment itu dapat membuat pikiran kita menjadi lebih positif dan bahkan bisa membuat semuanya terasa begitu damai. Jangan pernah setengah-setengah dalam menikmati moment, karena belum tentu moment tersebut bisa terulang kembali.
Kesimpulannya bisa kita temukan disini bahwa untuk segala sesuatunya hendaknya kita syukuri tanpa pernah kenal mengeluh setiap saat. Biarkan diri kita bebas semau kita, sejadi apa kita tanpa perlu menggubris kata-kata orang yang bilang ke kita ini itu tidak pantas, kita jelek pakai ini, kita cocoknya itu, well, jangan dipikirkan. Anggap saja mereka hanya ingin kita mengangguk tidak peduli dengan ocehannya. Karena apa? Karena kita sudah mencintai diri kita sendiri, mencintai apa yang kita lakukan sekarang, mencintai dengan sepenuh hati apa yang di depan mata kita tanpa perlu ragu dalam menentukan masa depan karena kita sudah bertindak lebih jauh dan lebih cepat dari langkah kecil mereka. Kita sudah mencoba keluar dari zona nyaman kita tanpa sepengetahuan mereka. Kita juga yakin kita menikmatinya selalu, setiap saat tanpa rasa lelah. Mungkin memang saat ini adalah moment untuk kita jatuh dan bangkit. Bukan malah jatuh dan semakin terpuruk. Ingatlah untuk selalu untuk mensyukuri apapun lewat pekerjaan yang kita cintai sepenuh hati di depan mata dan lengkapnya, nikmatilah moment tersebut sebagai pelengkap dari sebagian kisah hidup kalian.
Semoga artikel ini bermanfaat. Dan saya sangat merekomendasikan untuk kalian agar meluangkan waktu menonton film The Devil Wears Prada ini. Saya pasti akan sangat menghargainya. Terima kasih!



Just keep trying everything!     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar