Syukuri. Cintai. Nikmati.
Adalah tiga kata yang tersirat
setelah saya menonton film The Devil
Wears Prada yang disutradarai oleh David Frankel. Sebuah film berkesan yang
diangkat langsung dari novel berjudul sama yaitu The Devil Wears Prada karya Lauren Weisberger.
Saya disini tidak akan mereview ataupun membuat sinopsis dari
film atau bukunya sekalipun, karena saya hanya akan menulis hikmah atau pesan
yang bisa kita dapat dari film tersebut (karena kebetulan juga saya belum
membaca novelnya).
So,
langsung saja inti dari
film unik di ide, jujur dalam membeberkan segalanya dan sirat makna itu adalah
bagaimana seseorang bisa jadi diri dia apa adanya tanpa perlu takut untuk
mengakui kalau memang tidak bisa sama seperti orang lain (yang ikonnya di film
tersebut adalah perempuan). Saya sempat kagum dengan–hampir semuanya. Mulai
dari ceritanya yang benar-benar brilian, pemainnya yang sangat tepat dengan
karakternya masing-masing, tidak terlalu nyeleneh,
langsung ke poin sehingga membuat film ini terkesan luar biasa epiknya.
Balik lagi ke tujuan utama
nulis ini, (karena kayaknya malah mau ngereview filmnya ya?) oke, jadi maksud
film tersebut sudah jelas mengarahkan kita untuk mensyukuri apa yang terjadi di
depan mata kita. Jangan ngerasa kayak cuma kita satu-satunya manusia di dunia
ini yang sangat susah, dan yang terpenting jangan suka ‘mengemis’ kata terima kasih pada orang lain.
Maksudnya? Menerima balasan terima kasih
dari orang lain yang sudah kita bantu itu memang wajar dan sepertinya sudah
menjadi etika di Indonesia sendiri. Tapi, pernah gak sih (atau sering malah), kalian nemuin orang yang udah kalian bantu
susah payah tapi sama dia gak digubris? Bahkan bilang ‘terima kasih’ pun
enggak? Saya yakin kalian pasti pernah ngerasain itu. Nah, di film tersebut kita
diajarkan untuk tidak terlalu mempermasalahkannya. Asalkan kita ikhlas mau
membantu, itu sudah membuat nilai plus bagi diri kita sendiri. Urusan dia mau
menghargai apa yang sudah kita lakukan dengan sepenuh hati, ya terserah.
Biarkan Tuhan yang menilai. Emang gak enak sih,
kita kayak gak dihargain gitu tapi please,
take that easy :) you’re doing the right shot!
![]() |
| "Banyak orang rela mati-matian bekerja, sedangkan kau hanya tinggal kerja. Dan kau bertanya kenapa ia tidak mencium keningmu, dan memberi penghargaan atas kerjamu di akhir minggu? Bangunlah, sayang." |
Terus, ada lagi. Yep! Cintai pekerjaanmu yang sekarang. Ini penting banget. Emang sih, susah banget mencintai pekerjaan yang kita lakuin sekarang apalagi sepenuh hati. Kayak, apa sih yang sebenarnya kita lakuin sekarang? Bener gak sih yang lagi kita lakuin ini? Bakalan berguna gak sih buat kedepannya nanti? Bagaimana kalau–stop! Kalian kebanyakan mikir. Gak usah mikir yang belum-tentu-nantinya-gimana-kedepannya-buat kita, lakukan saja yang-terbaik-yang-sudah-kita-lakukan menurut kita, sekarang. Berhenti mencampuri semuanya dengan pikiran-pikiran pesimitis nan negatif yang jatuhnya malah membuat kita berpikir dua kali lipat lebih runyam dibanding dengan membiarkan segalanya mengalir dengan sendirinya tanpa perlu memperhatikan semuanya lebih jauh. Namun, terkadang berpikir tentang masa depan itu perlu, tapi ada batasannya. Sebatas merencanakannya saja sudah cukup dan langsung bertindak tanpa perlu direnungi lebih dan lebih. Ada saatnya kita bertindak tanpa perlu takut langkah mana yang salah mana yang benar. Semua sempurna kalau kalian percaya kalian bisa melakukannya. As simple as that.
Dan untuk yang terakhir,
nikmati. Dari sekian menit durasi film tersebut, ada saat-saat dimana,
istilahnya saya sebut shocking moment. Kenapa
gitu? Karena ternyata lama kelamaan sang karakter utama tanpa sadar ’jatuh
cinta’ dengan pekerjaan itu dan malah menikmatinya seiring berjalannya waktu,
padahal tujuan utama sang karakter utama bekerja disana adalah bukan untuk
menjadi bagian dari pekerjaan tersebut, melainkan ada maksud lain yang dia
sebut sebagai ‘batu loncatan’. Terkadang kita sering menganggap hal ini sepele, padahal menikmati setiap moment-moment itu dapat membuat pikiran kita menjadi lebih positif
dan bahkan bisa membuat semuanya terasa begitu damai. Jangan pernah
setengah-setengah dalam menikmati moment,
karena belum tentu moment tersebut
bisa terulang kembali.
Kesimpulannya bisa kita temukan
disini bahwa untuk segala sesuatunya hendaknya kita syukuri tanpa pernah kenal
mengeluh setiap saat. Biarkan diri kita bebas semau kita, sejadi apa kita tanpa
perlu menggubris kata-kata orang yang bilang ke kita ini itu tidak pantas, kita
jelek pakai ini, kita cocoknya itu, well,
jangan dipikirkan. Anggap saja mereka hanya ingin kita mengangguk tidak
peduli dengan ocehannya. Karena apa? Karena kita sudah mencintai diri kita
sendiri, mencintai apa yang kita lakukan sekarang, mencintai dengan sepenuh
hati apa yang di depan mata kita tanpa perlu ragu dalam menentukan masa depan
karena kita sudah bertindak lebih jauh dan lebih cepat dari langkah kecil
mereka. Kita sudah mencoba keluar dari zona nyaman kita tanpa sepengetahuan mereka.
Kita juga yakin kita menikmatinya selalu, setiap saat tanpa rasa lelah. Mungkin
memang saat ini adalah moment untuk
kita jatuh dan bangkit. Bukan malah jatuh dan semakin terpuruk. Ingatlah untuk
selalu untuk mensyukuri apapun lewat pekerjaan yang kita cintai sepenuh hati di
depan mata dan lengkapnya, nikmatilah moment
tersebut sebagai pelengkap dari sebagian kisah hidup kalian.
Semoga artikel ini bermanfaat.
Dan saya sangat merekomendasikan untuk kalian agar meluangkan waktu menonton
film The Devil Wears Prada ini. Saya
pasti akan sangat menghargainya. Terima kasih!
Just
keep trying everything!




Tidak ada komentar:
Posting Komentar