Rabu, 23 November 2016

Fungsi dan Peran Lembaga Pendidikan

          Pendidikan diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental.
Pendidikan juga berarti usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Terdapat tiga lingkungan atau wadah tempat pendidikan berlangsung, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Berdasarkan kenyataan dari peranan ketiga lembaga ini, Ki Hajar Dewantara menganggap ketiga lembaga pendidikan tersebut sebagai Tri Pusat Pendidikan. Dan mereka bertanggung jawab satu sama lainnya untuk menyiapkan generasi terbaik di masa mendatang. 


1.  Lembaga Pendidikan Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama dialami oleh anak dan sifatnya kodrati (mutlak dari Tuhan). Menjadi yang pertama dalam Tri Pusat Pendidikan karena, disinilah pertama kalinya seorang anak mendapat pendidikan, arahan, serta bimbingan mulai dari saat masih kecil hingga sudah dewasa sekalipun.
Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial maupun pendidikan individual. Mereka harus senantiasa melakukan usaha yang sebaik-baiknya untuk kemajuan anaknya, menuntun, mengajari dan sebagai pemberi contoh terbaik termasuk akhlak serta pandangan hidup keagamaan.
Fungsi dan peranan pendidikan keluarga ada lima yaitu :
a)    Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
Anak yang terlahir di dunia ini tidak berdaya dan tidak mengerti apa-apa. Penuh ketergantungan pada orang lain (John Lock ‘Tabulasrasa’).
Dengan demikian tergantung pada orang tua anak tersebut akan mengajari bagaimana anaknya.
b)   Menjamin kehidupan emosional anak
Untuk menjamin kehidupan emosional anak diperlukan suasana rumah yang penuh rasa cinta dan simpati sewajarnya, aman, tenteram serta rasa kepercayaan satu sama lain.  Merupakan faktor yang penting karena kehidupan emosional akan membentuk pribadi anak tersebut kedepannya, apakah anak tersebut akan cenderung cepat marah, tenang, ataupun tidak peduli sama sekali dengan orang lain. Bahkan kecerdasan emosional seseorang lebih harus diutamakan dibanding dengan kecedasan kognitif.  
c)    Menanamkan dasar pendidikan moral
Sikap dan perilaku orang tua dapat menjadi contoh bagi anak. Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa, ‘rasa cinta, rasa bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya sangat berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan, teristimewa pendidikan budi pekerti, terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam sifat yang kuat dan murni, sehingga tak dapat pusat-pusat menyamainya.’ Hal ini membuktikan bahwa segala yang dikenal anak tersebut akan melekat pada orang-orang yang disenanginya untuk itulah sangat penting orang tua menjadi teman yang menyenangkan bagi anaknya sendiri.
d)   Memberikan dasar pendidikan sosial
Perkembangan benih-benih kesadaran sosial pada anak dapat dipupuk sedini mungkin, lewat kehidupan keluarga yang penuh rasa tolong-menolong, gotong-royong secara kekeluargaan, menolong saudara atau tetangga yang sakit, bersama-sama menjaga ketertiban, kedamaian, kebersihan dan keserasian dalam segala hal.
e)    Meletakkan daar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak
Keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama, disamping sangat menentukan dalam menanamkan dasar-dasar moral, yang tak kalah pentingnya berperan besar dalam proses internalisasi dan transpormasi nilai-nilai keagamaan ke dalam pribadi anak.
Berikut adalah tanggung jawab dari keluarga :
a.    Adanya motivasi atau dorongan cinta kasih yang menjiwai hubungan orang tua dan anak.
b.    Pemberian motivasi kewajiban moral sebagai konsekuensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya.
c.    Tanggung jawab sosial adalah bagian dari keluarga yang pada gilirannya akan menjadi tanggung jawab masyarakat, bangsa dan negara.
d.    Memelihara dan membesarkan anaknya.
e.    Memberikan pendidikan dengan berbagai ilmu pengetahuan dan    keterampilan yang berguna bagi kehidupan anak kelak, sehingga bila ia dewasa akan mampu mandiri.


2. Lembaga Pendidikan Sekolah
Yang dimaksud dengan pendidikan sekolah disini adalah pendidikan yang diperoleh seseorang di sekolah secara teratur, sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat (mulai dari Taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi).
     Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah yang lahir dan berkembang secara efektif dan efisien dari dan oleh serta untuk masyarakat, merupakan perangkat yang berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarkat dalam mendidik warga negara.
     Fungsi dan peranan sekolah yaitu :
a.    Anak didik belajar bergaul sesama anak didik, antara guru dengan anak didik, dan antara anak didik dengan orang yang bukan guru (karyawan).
b.    Anak didik belajr menaati peraturan-peraturan sekolah.
c.    Mempersiapkan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara.
d.    Mengembangkan kecerdasan pikiran dan memberikan pengetahuan. Fungsi sekolah dalam pendidikan intelektual dapat disamakan dengan fungsi keluarga dalam pendidikan moral.  
e.    Spesialisasi
Diperlukan bentuk spesial dari sekolah tersebut untuk menghadapi meningkatnya kemajuan masyarakat ialah semakin bertambahnya diferensiasi dalam tugas kemasyarakatan dan lembaga sosial yang melaksanakan tugas tersebut.
f.    Efisiensi
Karena sekolah banyak spesialisasinya di bidang pendidikan dan pengajaran, maka pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dalam masyarakat menjadi lebih efisien.
g.    Sosialisasi
Sudah tentu di sekolah adalah tempat untuk anak-anak bersosialisasi dengan teman sebayanya. Disini juga, anak dituntut untuk bisa beradaptasi.
h.    Konservasi dan transmisi kultural
Fungsi lain dari sekolah adalah memelihara warisan budaya yang ada di masyarakat dan kemudian disampaikan ke anak didik.
i.      Transisi dari rumah ke masyarakat
Ketika berada di keluarga, kehidupan anak serba menggantungkan diri pada orang tua, maka memasuki sekolah di mana ia mendapat kesempatan untuk melatih berdiri sendiri dan tanggung jawab sebagai persiapan sebelum ke masyarakat.



3. Lembaga Pendidikan Masyarakat
Masyarakat diartikan sebagai sekumpulan orang yang menempati suatu daerah, diikat oleh pengalaman-pengalaman yang sama, memiliki sejumlah persesuaian dan sadar akan kesatuannya, serta dapat bertindak bersama untuk mencukupi krisis kehidupannya.
Setelah lepas dari pendidikan keluarga dan juga pendidikan sekolah, maka anak tersebut akan menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Menjadi tri pusat yang ketiga, pendidikan masyarakat disebut juga pendidikan informal (UU Nomor 20 Tahun 2003), berdampak besar bagi kelangsungan hidup anak tersebut. Corak dan ragam pendidikan yang dialami seseorang dalam bermasyarakat banyak sekali, meliputi pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, sikap, minat, pembentukan kesusilaan dan keagamaan.  
Hubungan masyarakat dengan pendidikan adalah sama-sama mempunyai peran dan fungsi edukatif, tersedianya berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by design) maupun yang dimanfaatkan (utility). Adapun ciri-ciri pendidikan ini sebagai berikut :
1.     Pendidikan diselenggarakan dengan sengaja di luar sekolah.
2.    Peserta umumnya mereka yang sudah tidak bersekolah atau drop out.
3.    Pendidikan tidak mengenal jenjang, dan program pendidikan untuk jangka waktu pendek.
4.    Peserta tidak perlu homogen.
5.    Ada waktu belajar dan metode formal, serta evaluasi yang sistematis.
6.    Isi pendidikan bersifat praktis dan khusus.
7.    Keterampilan kerja sangat ditekankan sebagai jawaban terhadap kebutuhan meningkatkan taraf hidup.
Sasaran dan program pendidikan nonformal :
1.     Para buruh dan petani
2.    Para remaja yang putus sekolah
3.    Para pekerja yang berketerampilan
4.    Golongan teknisi dan profesional
5.    Para pemimpin masyarakat
6.    Anggota masyarakat yang sudah tua.

Kesimpulannya adalah pendidikan merupakan hal terpenting yang perlu didapatkan oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak-anak hingga dewasa. Dasarnya, pendidikan sudah diajarkan langsung oleh orang tua kita sebagai ruang lingkup pendidikan keluarga, karena selain di keluarga, pendidikan juga dibutuhkan lewat pengajaran serta bimbingan dari sekolah sebagai jalur formal penyampaian pendidikan. Dan satu lagi pendidikan yang bisa kita dapatkan walaupun informal, yaitu, pendidikan masyarakat. Terkadang justru lewat pendidikan masyarakatlah seseorang bisa belajar banyak, mendapat pengetahuan dari ilmu-ilmu baru yang dia temukan sendiri berdasarkan pengalaman.
 


Sumber : 

Cook dalam Sutari Imam Barnadib. Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis. 1986. Hal 133. FIP IKIP Yogyakarta.
Hasbullah. 2015. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA.
Idris, Zahara. 1981. Dasar-dasar Kependidikan. Hal 69. Bandung: Angkasa.
Sudirman N, dkk. 1992. Ilmu Pendidikan. Hal 4. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Sudirman. “Lingkungan Pendidikan”. http://makalahpendidikan-sudirman.blogspot.co.id/ Diakses pada tanggal 24 Nopember 2016.   
Suwarno. 1985. Pengantar Umum Pendidikan. Hal 70. Jakarta: Aksara Baru.
Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. 2006 Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar