Pendidikan
diartikan sebagai usaha yang dijalankan oleh seseorang atau kelompok orang lain
agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup atau penghidupan yang lebih
tinggi dalam arti mental.
Pendidikan juga berarti usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi
dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian
diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya dan masyarakat.
Terdapat tiga lingkungan atau
wadah tempat pendidikan berlangsung, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Berdasarkan
kenyataan dari peranan ketiga lembaga ini, Ki Hajar Dewantara menganggap ketiga
lembaga pendidikan tersebut sebagai Tri Pusat Pendidikan. Dan mereka
bertanggung jawab satu sama lainnya untuk menyiapkan generasi terbaik di masa
mendatang.
1. Lembaga
Pendidikan Keluarga
Lingkungan keluarga
merupakan lembaga pendidikan tertua, bersifat informal, yang pertama dan utama
dialami oleh anak dan sifatnya kodrati (mutlak dari Tuhan). Menjadi yang
pertama dalam Tri Pusat Pendidikan karena, disinilah pertama kalinya seorang anak
mendapat pendidikan, arahan, serta bimbingan mulai dari saat masih kecil hingga
sudah dewasa sekalipun.
Ki Hajar Dewantara
berpendapat bahwa kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk
melakukan pendidikan sosial maupun pendidikan individual. Mereka harus
senantiasa melakukan usaha yang sebaik-baiknya untuk kemajuan anaknya,
menuntun, mengajari dan sebagai pemberi contoh terbaik termasuk akhlak serta
pandangan hidup keagamaan.
Fungsi dan peranan
pendidikan keluarga ada lima yaitu :
a) Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
Anak
yang terlahir di dunia ini tidak berdaya dan tidak mengerti apa-apa. Penuh ketergantungan
pada orang lain (John Lock ‘Tabulasrasa’).
Dengan
demikian tergantung pada orang tua anak tersebut akan mengajari bagaimana
anaknya.
b) Menjamin kehidupan emosional anak
Untuk
menjamin kehidupan emosional anak diperlukan suasana rumah yang penuh rasa
cinta dan simpati sewajarnya, aman, tenteram serta rasa kepercayaan satu sama
lain. Merupakan faktor yang penting
karena kehidupan emosional akan membentuk pribadi anak tersebut kedepannya,
apakah anak tersebut akan cenderung cepat marah, tenang, ataupun tidak peduli
sama sekali dengan orang lain. Bahkan kecerdasan emosional seseorang lebih
harus diutamakan dibanding dengan kecedasan kognitif.
c) Menanamkan dasar pendidikan moral
Sikap
dan perilaku orang tua dapat menjadi contoh bagi anak. Ki Hajar Dewantara
menyatakan bahwa, ‘rasa cinta, rasa
bersatu dan lain-lain perasaan dan keadaan jiwa yang pada umumnya sangat
berfaedah untuk berlangsungnya pendidikan, teristimewa pendidikan budi pekerti,
terdapatlah di dalam hidup keluarga dalam sifat yang kuat dan murni, sehingga
tak dapat pusat-pusat menyamainya.’ Hal ini membuktikan bahwa segala yang
dikenal anak tersebut akan melekat pada orang-orang yang disenanginya untuk
itulah sangat penting orang tua menjadi teman yang menyenangkan bagi anaknya
sendiri.
d) Memberikan dasar pendidikan sosial
Perkembangan
benih-benih kesadaran sosial pada anak dapat dipupuk sedini mungkin, lewat
kehidupan keluarga yang penuh rasa tolong-menolong, gotong-royong secara
kekeluargaan, menolong saudara atau tetangga yang sakit, bersama-sama menjaga
ketertiban, kedamaian, kebersihan dan keserasian dalam segala hal.
e) Meletakkan daar-dasar pendidikan agama bagi
anak-anak
Keluarga
sebagai lembaga pendidikan pertama dan utama, disamping sangat menentukan dalam
menanamkan dasar-dasar moral, yang tak kalah pentingnya berperan besar dalam
proses internalisasi dan transpormasi nilai-nilai keagamaan ke dalam pribadi
anak.
Berikut adalah tanggung jawab
dari keluarga :
a. Adanya motivasi atau dorongan cinta kasih
yang menjiwai hubungan orang tua dan anak.
b. Pemberian motivasi kewajiban moral sebagai
konsekuensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya.
c. Tanggung jawab sosial adalah bagian dari
keluarga yang pada gilirannya akan menjadi tanggung jawab masyarakat, bangsa
dan negara.
d. Memelihara dan membesarkan anaknya.
e. Memberikan pendidikan dengan berbagai ilmu
pengetahuan dan keterampilan yang
berguna bagi kehidupan anak kelak, sehingga bila ia dewasa akan mampu mandiri.
2. Lembaga Pendidikan Sekolah
Yang dimaksud dengan pendidikan sekolah
disini adalah pendidikan yang diperoleh seseorang di sekolah secara teratur,
sistematis, bertingkat, dan dengan mengikuti syarat-syarat yang jelas dan ketat
(mulai dari Taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi).
Sebagai lembaga pendidikan formal, sekolah
yang lahir dan berkembang secara efektif dan efisien dari dan oleh serta untuk
masyarakat, merupakan perangkat yang berkewajiban memberikan pelayanan kepada
masyarkat dalam mendidik warga negara.
Fungsi dan peranan sekolah yaitu :
a. Anak didik belajar bergaul sesama anak
didik, antara guru dengan anak didik, dan antara anak didik dengan orang yang
bukan guru (karyawan).
b. Anak didik belajr menaati
peraturan-peraturan sekolah.
c. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi
anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa, dan negara.
d. Mengembangkan kecerdasan pikiran dan
memberikan pengetahuan. Fungsi sekolah dalam pendidikan intelektual dapat
disamakan dengan fungsi keluarga dalam pendidikan moral.
e. Spesialisasi
Diperlukan
bentuk spesial dari sekolah tersebut untuk menghadapi meningkatnya kemajuan
masyarakat ialah semakin bertambahnya diferensiasi dalam tugas kemasyarakatan
dan lembaga sosial yang melaksanakan tugas tersebut.
f. Efisiensi
Karena
sekolah banyak spesialisasinya di bidang pendidikan dan pengajaran, maka
pelaksanaan pendidikan dan pengajaran dalam masyarakat menjadi lebih efisien.
g. Sosialisasi
Sudah
tentu di sekolah adalah tempat untuk anak-anak bersosialisasi dengan teman
sebayanya. Disini juga, anak dituntut untuk bisa beradaptasi.
h. Konservasi dan transmisi kultural
Fungsi
lain dari sekolah adalah memelihara warisan budaya yang ada di masyarakat dan
kemudian disampaikan ke anak didik.
i. Transisi dari rumah ke masyarakat
Ketika
berada di keluarga, kehidupan anak serba menggantungkan diri pada orang tua,
maka memasuki sekolah di mana ia mendapat kesempatan untuk melatih berdiri
sendiri dan tanggung jawab sebagai persiapan sebelum ke masyarakat.
3. Lembaga
Pendidikan Masyarakat
Masyarakat diartikan
sebagai sekumpulan orang yang menempati suatu daerah, diikat oleh
pengalaman-pengalaman yang sama, memiliki sejumlah persesuaian dan sadar akan
kesatuannya, serta dapat bertindak bersama untuk mencukupi krisis kehidupannya.
Setelah lepas
dari pendidikan keluarga dan juga pendidikan sekolah, maka anak tersebut akan
menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Menjadi tri pusat yang ketiga,
pendidikan masyarakat disebut juga pendidikan informal (UU Nomor 20 Tahun 2003),
berdampak besar bagi kelangsungan hidup anak tersebut. Corak dan ragam
pendidikan yang dialami seseorang dalam bermasyarakat banyak sekali, meliputi
pembentukan kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, sikap, minat, pembentukan
kesusilaan dan keagamaan.
Hubungan masyarakat
dengan pendidikan adalah sama-sama mempunyai peran dan fungsi edukatif,
tersedianya berbagai sumber belajar, baik yang dirancang (by design) maupun yang dimanfaatkan (utility). Adapun ciri-ciri pendidikan ini sebagai berikut :
1. Pendidikan diselenggarakan dengan sengaja
di luar sekolah.
2. Peserta umumnya mereka yang sudah tidak
bersekolah atau drop out.
3. Pendidikan tidak mengenal jenjang, dan
program pendidikan untuk jangka waktu pendek.
4. Peserta tidak perlu homogen.
5. Ada waktu belajar dan metode formal, serta
evaluasi yang sistematis.
6. Isi pendidikan bersifat praktis dan khusus.
7. Keterampilan kerja sangat ditekankan
sebagai jawaban terhadap kebutuhan meningkatkan taraf hidup.
Sasaran dan program pendidikan
nonformal :
1. Para buruh dan petani
2. Para remaja yang putus sekolah
3. Para pekerja yang berketerampilan
4. Golongan teknisi dan profesional
5. Para pemimpin masyarakat
6. Anggota masyarakat yang sudah tua.
Kesimpulannya adalah pendidikan
merupakan hal terpenting yang perlu didapatkan oleh seluruh lapisan masyarakat
mulai dari anak-anak hingga dewasa. Dasarnya, pendidikan sudah diajarkan langsung
oleh orang tua kita sebagai ruang lingkup pendidikan keluarga, karena selain di
keluarga, pendidikan juga dibutuhkan lewat pengajaran serta bimbingan dari
sekolah sebagai jalur formal penyampaian pendidikan. Dan satu lagi pendidikan
yang bisa kita dapatkan walaupun informal, yaitu, pendidikan masyarakat. Terkadang
justru lewat pendidikan masyarakatlah seseorang bisa belajar banyak, mendapat
pengetahuan dari ilmu-ilmu baru yang dia temukan sendiri berdasarkan
pengalaman.
Sumber :
Cook dalam
Sutari Imam Barnadib. Pengantar Ilmu
Pendidikan Sistematis. 1986. Hal 133. FIP IKIP Yogyakarta.
Hasbullah.
2015. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: PT RAJAGRAFINDO
PERSADA.
Idris,
Zahara. 1981. Dasar-dasar Kependidikan.
Hal 69. Bandung: Angkasa.
Sudirman N,
dkk. 1992. Ilmu Pendidikan. Hal 4.
Bandung: Remaja Rosda Karya.
Sudirman. “Lingkungan Pendidikan”. http://makalahpendidikan-sudirman.blogspot.co.id/ Diakses pada
tanggal 24 Nopember 2016.
Suwarno. 1985. Pengantar Umum Pendidikan. Hal 70.
Jakarta: Aksara Baru.
Tirtarahardja,
Umar dan S.L. La Sulo. 2006 Pengantar
Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar