Senin, 28 November 2016

Pendidikan Karakter Sudah Ada Sejak Kita Masih Kecil


“Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda.” – Robert Fulghum. 

Pada saat usia anak 3-5 tahun, otak anak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak anak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa Golden Age. Sebuah penelitian yang dilakukan ahli Perkembangan dan Perilaku Anak dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.
Memperoleh pendidikan merupakan hak setiap anak. Sebuah bangsa tidak akan berkembang dan maju apabila penduduknya tidak memiliki pendidikan yang baik. Seperti judulnya, memang pendidikan sudah ada sejak kita masih kecil. Terutama pendidikan karakter. Dimulai dari, contoh ada seorang ibu yang sedang mengandung, ibu tersebut membacakan cerita dan memberitahunya secara tidak langsung makna serta kebaikan-kebaikan apa yang terkandung dalam cerita tersebut.
          Menurut Mae Chu Chang, seorang ahli pendidikan dari Bank Dunia Indonesia, dia beranggapan bahwa investasi pendidikan tertinggi adalah pada usia dini karena dapat menghasilkan manfaat yang jauh lebih stabil dan baik ketimbang investasi pada tingkat usia dijenjang pendidikan yang lainnya misalnya SD, SMP, SMA, SMK, STM atau tingkat Mahasiswa sekalipun. Alasannya karena awal pembentukan karakter seseorang mulanya terbentuk pada sistem pendidikan anak usia dini dan bukan pada usia yang telah beranjak dewasa.
          Pendidikan karakter ini sangat penting karena selain dapat membentuk pribadi anak tersebut, seorang anak menjadi tahu mana yang baik dan yang tidak. Pola asuh dari orang tua sangat ikut andil. Maka dari itu sebagai orang tua, sudah sepatutnya kita berikan contoh itu dalam sikap dan perbuatan serta kata-kata. Karena anak akan cenderung lebih mengikuti perbuatan dibanding kata-kata. 

          Berikut adalah kutipan puisi yang diungkapkan Dorothy Law Nolte, Ph. D, seorang penulis puisi pendidikan asal Amerika yang mana merupakan seorang pendidik dan ahli konseling keluarga. Nama aslinya adalah Dorothy Louise, beliau lahir pada 12 Januari 1924 dan meninggal 6 Nopember 2005. Kutipan puisinya (sudah dialih bahasa ke Bahasa Indonesia) sebagai berikut :
          Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
          Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia belajar rendah diri
          Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
          Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia belajar mengendalikan diri
          Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia belajar percaya diri
          Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar percaya
          Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya.
Buku berisi puisi karya Dorothy Law Nolte.
Sebagai orang tua kadang tidak sadar, sikap kita pada anak justru akan menjatuhkan si anak. Misalnya dengan memukul dan memberikan tekanan yang pada akhirnya menjadikan anak bersikap negatif, rendah diri, minder, penakut, dan tidak berani mengambil resiko, yang pada akhirnya karakter-karakter tersebut akan dibawanya sampai ia dewasa. Hal ini secara tidak langsung akan menghambat perkembangan karakter anak tersebut ketika mencapai masa dewasa. Misalnya saja seperti anak tersebut takut mengambil resiko padahal semuanya memiliki resiko tersendiri justru tidak melakukan apa-apa yang nanti akan menimbulkan resiko.
Berikut ada tiga cara membentuk karakter anak berkualitas yang dituturkan oleh Prof. Dr. Arief Rachman, M. Pd yang juga merupakan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO :
1.     Orang tua Harus Konsisten yaitu sebaiknya sikap orang tua juga mesti sesuai dengan aturan yang sedang dijalankan. Usahakan jangan pernah ada tarik ulur dengan aturan yang sudah diterapkan.
2.    Berkelanjutan Dalam Membangun Karakter Anak yaitu berkesinambungan dalam hal ini adalah proses membimbing, mengasuh serta mendidik untuk dapat membentuk karakter anak tersebut. Hal ini dikarenakan karakter anak akan mulai terbentuk dengan sendirinya. Dan juga harus ‘mengupdate’ informasi yang berkaitan dengan pendidikan anak karena mendidik anak ketika masih balita dan remaja berbeda.
3.    Lakukan Dengan Konsekuen yaitu ketika anak salah maka hukumlah dengan tentu saja hukuman yang mendidik serta memberinya pujian atau hadiah ketika anak tersebut berbuat suatu kebaikan.
Namun, bukan hanya dari keluarga itu sendiri. Lingkungan juga mempengaruhi perkembangan karakter seorang anak. Sebagai contoh, saat di sekolah, terkadang anak suka meniru gaya atau ucapan yang dilontarkan teman-teman sebayanya. Guru juga sebagai pendidik penting perannya dalam membentuk karakter anak. Mulai dari guru di PAUD, TK, dan SD.
Kesimpulannya adalah pendidikan karakter sudah sepatutnya orang tua ajarkan semejak anaknya masih balita karena selain merupakan masa keemasan, pendidikan karakter untuk anak itu juga dapat membantunya untuk berkembang lebih baik apalagi saat menuju masa dewasanya. Lakukanlah dengan konsisten, berkelanjutan dalam membangun karakter, serta konsekuen dan juga jagalah sikap dan kata-kata yang akan orang tua sebut karena anak pada dasarnya akan lebih banyak mencontoh perbuatan dibanding kata-kata. Jika dari keluarga, sekolah, dan lingkungan dengan baik bekerja sama membentuk suatu karakter ‘baik’ untuk seorang anak, maka sudah dipastikan karakter anak tersebut sempurna.       

Semoga bermanfaat :)


          Sumber : 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar