“Jangan mengkuatirkan bahwa anak-anak tidak mendengarkan Anda, kuatirkanlah bahwa mereka selalu mengamati Anda.” – Robert Fulghum.
Pada saat usia anak 3-5 tahun,
otak anak berkembang sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak anak
menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Banyak
yang menyebut masa tersebut sebagai masa Golden
Age. Sebuah penelitian yang dilakukan ahli Perkembangan dan Perilaku Anak
dari Amerika bernama Brazelton menyebutkan bahwa pengalaman anak pada bulan dan
tahun pertama kehidupannya sangat menentukan apakah anak ini akan mampu
menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan apakah ia akan menunjukan semangat
tinggi untuk belajar dan berhasil dalam pekerjaannya.
Memperoleh pendidikan merupakan
hak setiap anak. Sebuah bangsa tidak akan berkembang dan maju apabila
penduduknya tidak memiliki pendidikan yang baik. Seperti judulnya, memang
pendidikan sudah ada sejak kita masih kecil. Terutama pendidikan karakter. Dimulai
dari, contoh ada seorang ibu yang sedang mengandung, ibu tersebut membacakan
cerita dan memberitahunya secara tidak langsung makna serta kebaikan-kebaikan
apa yang terkandung dalam cerita tersebut.
Menurut
Mae Chu Chang, seorang ahli pendidikan dari Bank Dunia Indonesia, dia beranggapan
bahwa investasi pendidikan tertinggi adalah pada usia dini karena dapat
menghasilkan manfaat yang jauh lebih stabil dan baik ketimbang investasi pada
tingkat usia dijenjang pendidikan yang lainnya misalnya SD, SMP, SMA, SMK, STM
atau tingkat Mahasiswa sekalipun. Alasannya karena awal pembentukan karakter
seseorang mulanya terbentuk pada sistem pendidikan anak usia dini dan bukan
pada usia yang telah beranjak dewasa.
Pendidikan
karakter ini sangat penting karena selain dapat membentuk pribadi anak
tersebut, seorang anak menjadi tahu mana yang baik dan yang tidak. Pola asuh
dari orang tua sangat ikut andil. Maka dari itu sebagai orang tua, sudah
sepatutnya kita berikan contoh itu dalam sikap dan perbuatan serta kata-kata. Karena
anak akan cenderung lebih mengikuti perbuatan dibanding kata-kata.
Berikut
adalah kutipan puisi yang diungkapkan Dorothy Law Nolte, Ph. D, seorang penulis
puisi pendidikan asal Amerika yang mana merupakan seorang pendidik dan ahli
konseling keluarga. Nama aslinya adalah Dorothy Louise, beliau lahir pada 12
Januari 1924 dan meninggal 6 Nopember 2005. Kutipan puisinya (sudah dialih
bahasa ke Bahasa Indonesia) sebagai berikut :
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia
belajar memaki
Jika
anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
maka ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
maka ia belajar mengendalikan diri
Jika anak dibesarkan dengan motivasi,
maka ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
maka ia belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
maka ia belajar menghargai diri sendiri
Jika
anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia belajar menemukan
kasih dalam kehidupannya.
![]() |
| Buku berisi puisi karya Dorothy Law Nolte. |
Berikut ada tiga cara membentuk
karakter anak berkualitas yang dituturkan oleh Prof. Dr. Arief Rachman, M. Pd
yang juga merupakan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO :
1. Orang tua Harus Konsisten yaitu sebaiknya
sikap orang tua juga mesti sesuai dengan aturan yang sedang dijalankan. Usahakan
jangan pernah ada tarik ulur dengan aturan yang sudah diterapkan.
2. Berkelanjutan Dalam Membangun Karakter Anak
yaitu berkesinambungan dalam hal ini adalah proses membimbing, mengasuh serta
mendidik untuk dapat membentuk karakter anak tersebut. Hal ini dikarenakan
karakter anak akan mulai terbentuk dengan sendirinya. Dan juga harus ‘mengupdate’
informasi yang berkaitan dengan pendidikan anak karena mendidik anak ketika
masih balita dan remaja berbeda.
3. Lakukan Dengan Konsekuen yaitu ketika anak
salah maka hukumlah dengan tentu saja hukuman yang mendidik serta memberinya
pujian atau hadiah ketika anak tersebut berbuat suatu kebaikan.
Namun, bukan hanya dari
keluarga itu sendiri. Lingkungan juga mempengaruhi perkembangan karakter
seorang anak. Sebagai contoh, saat di sekolah, terkadang anak suka meniru gaya
atau ucapan yang dilontarkan teman-teman sebayanya. Guru juga sebagai pendidik
penting perannya dalam membentuk karakter anak. Mulai dari guru di PAUD, TK,
dan SD.
Kesimpulannya
adalah pendidikan karakter sudah sepatutnya orang tua ajarkan semejak anaknya
masih balita karena selain merupakan masa keemasan, pendidikan karakter untuk
anak itu juga dapat membantunya untuk berkembang lebih baik apalagi saat menuju
masa dewasanya. Lakukanlah dengan konsisten, berkelanjutan dalam membangun
karakter, serta konsekuen dan juga jagalah sikap dan kata-kata yang akan orang
tua sebut karena anak pada dasarnya akan lebih banyak mencontoh perbuatan
dibanding kata-kata. Jika dari keluarga, sekolah, dan lingkungan dengan baik
bekerja sama membentuk suatu karakter ‘baik’ untuk seorang anak, maka sudah
dipastikan karakter anak tersebut sempurna.
Semoga bermanfaat :)
Sumber :


Tidak ada komentar:
Posting Komentar