Sudahkah kalian mendengar kembali adanya
beras emas? Semacam bualan jika dipikir lebih jauh. Tapi ketahuilah ini
benar-benar beras emas dan sayangnya, bukan beras yang dicelup dalam emas cair
dan didinginkan, melainkan beras hasil ide dari rekayasa genetik seorang Dr.
Ingo Potrykus asal Swiss Federal
Institute of Technology atau ETH, yang dibantu oleh koleganya, asisten
laboratoriumnya, dan seorang ahli tanaman defodil, Peter Beyer serta ahli
bakteri Erwinia. Sedangkan, dana yang
turun berasal dari Yayasan Rockefeller, pemerintah Swiss, pemerintah Jerman,
dan Uni Eropa.
Lalu, apa spesialnya? Apa yang membedakan
beras emas dengan beras warna putih yang biasa kita konsumsi? Dan, apakah beras
emas tersebut aman untuk dimakan nanti?
Begini penjelasan ilmiahnya. Beras emas
tersebut ternyata memiliki tujuh gen yang tidak biasa dimiliki beras lain yang
hanya memiliki satu gen hanya. Ketujuh gen tersebut mengode enam jenis protein
yang tidak terdapat secara alami pada beras biasa. Dan, keenam protein tersebut
adalah fitoen sintase, fitoen disaturase,
likopen siklase, feritin, fitase, dan
metalotionin.
Fitoen
sintase, fitoen disaturase, dan likopen siklase merupakan enzim yang
menyebabkan tanaman padi menyintesis betakaroten dari prekursor yang sudah
dimiliki dan tersimpan dalam biji angiospermae tersebut. Feritin menyebabkan
tanaman padi menjaga kandungan zat besi dalam bijinya tetap tinggi. Fitase
mencegah terhambatnya penyerapan zat besi dalam usus halus manusia.
Adapaun metalotion akan meningkatkan
penyerapan zat besi dalam usus manusia. Dua dari gen-gen dalam jalur beta
karoten diambil dari tanaman dafodil yang membentuk betakaroten dalam tubuhnya.
Sedangkan dua gen lainnya (yang secara bersamaan mengode satu protein) berasal
dari bakteri yang tidak berbahaya yaitu, Erwinia
uredovora.
Adapun beras emas tersebut dapat digunakan
untuk mengatasi defisiensi betakaroten, beras emas juga memiliki beberapa
kelemahan. Salah satunya, protein-protein baru yang terbentuk dalam tanaman
padi tersebut dapat menimbulkan reaksi alergi.
Selain hal tersebut, jika tanaman beras
emas ini disilangkan dengan tanaman padi varietas lokal, maka hanya sedikit
keturunannya yang akan memiliki gen-gen betakaroten. Yang bahkan secara
bertahap, gen-gen tersebut makin jarang muncul. Untuk kelemahan lainnya,
tanaman padi beras emas ini dapat menimbulkan dampak lingkungan yang tidak
diharapkan.
Jadi sudah jelas bukan? Beras emas ini
masih dalam proses penelitian lebih lanjut. Mungkin kita perlu bersabar menanti
perkembangan si beras emas ini. Dan tentu saja, dengan harapan yang baik pula.
Semoga
bermanfaat :)
Sumber
:
Pujiyanto, Sri dan Rejeki
Siti Ferniah. 2014. Buku Siswa Menjelajah
Dunia Biologi Untuk Kelas XII SMA dan MA. Jakarta: TIGA SERANGKAI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar