Kamis, 29 Desember 2016

Beras Emas

     

      Sudahkah kalian mendengar kembali adanya beras emas? Semacam bualan jika dipikir lebih jauh. Tapi ketahuilah ini benar-benar beras emas dan sayangnya, bukan beras yang dicelup dalam emas cair dan didinginkan, melainkan beras hasil ide dari rekayasa genetik seorang Dr. Ingo Potrykus asal Swiss Federal Institute of Technology atau ETH, yang dibantu oleh koleganya, asisten laboratoriumnya, dan seorang ahli tanaman defodil, Peter Beyer serta ahli bakteri Erwinia. Sedangkan, dana yang turun berasal dari Yayasan Rockefeller, pemerintah Swiss, pemerintah Jerman, dan Uni Eropa.  
     Lalu, apa spesialnya? Apa yang membedakan beras emas dengan beras warna putih yang biasa kita konsumsi? Dan, apakah beras emas tersebut aman untuk dimakan nanti?
     Begini penjelasan ilmiahnya. Beras emas tersebut ternyata memiliki tujuh gen yang tidak biasa dimiliki beras lain yang hanya memiliki satu gen hanya. Ketujuh gen tersebut mengode enam jenis protein yang tidak terdapat secara alami pada beras biasa. Dan, keenam protein tersebut adalah fitoen sintase, fitoen disaturase, likopen siklase, feritin, fitase, dan metalotionin.
       Fitoen sintase, fitoen disaturase, dan likopen siklase merupakan enzim yang menyebabkan tanaman padi menyintesis betakaroten dari prekursor yang sudah dimiliki dan tersimpan dalam biji angiospermae tersebut. Feritin menyebabkan tanaman padi menjaga kandungan zat besi dalam bijinya tetap tinggi. Fitase mencegah terhambatnya penyerapan zat besi dalam usus halus manusia.
     Adapaun metalotion akan meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus manusia. Dua dari gen-gen dalam jalur beta karoten diambil dari tanaman dafodil yang membentuk betakaroten dalam tubuhnya. Sedangkan dua gen lainnya (yang secara bersamaan mengode satu protein) berasal dari bakteri yang tidak berbahaya yaitu, Erwinia uredovora.
     Adapun beras emas tersebut dapat digunakan untuk mengatasi defisiensi betakaroten, beras emas juga memiliki beberapa kelemahan. Salah satunya, protein-protein baru yang terbentuk dalam tanaman padi tersebut dapat menimbulkan reaksi alergi.
     Selain hal tersebut, jika tanaman beras emas ini disilangkan dengan tanaman padi varietas lokal, maka hanya sedikit keturunannya yang akan memiliki gen-gen betakaroten. Yang bahkan secara bertahap, gen-gen tersebut makin jarang muncul. Untuk kelemahan lainnya, tanaman padi beras emas ini dapat menimbulkan dampak lingkungan yang tidak diharapkan.
     Jadi sudah jelas bukan? Beras emas ini masih dalam proses penelitian lebih lanjut. Mungkin kita perlu bersabar menanti perkembangan si beras emas ini. Dan tentu saja, dengan harapan yang baik pula.

Semoga bermanfaat :) 



Sumber :
Pujiyanto, Sri dan Rejeki Siti Ferniah. 2014. Buku Siswa Menjelajah Dunia Biologi Untuk Kelas XII SMA dan MA. Jakarta: TIGA SERANGKAI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar