Merupakan
sebutan untuk orang-orang yang memiliki kemampuan menguasai banyak bahasa. Poliglot sendiri berasal dari bahasa
Yunani yaitu, ‘polglttos’ yang artinya banyak-lidah. Poly berarti
‘banyak’ dan glotta artinya ‘lidah’. Menurut Meriam Webster, istilah
poliglot pertama kali disebut pada tahun 1645. Perbedaannya dengan lingustik
terletak pada pengertian dari masing-masing istilah tersebut. Linguistik adalah
ilmu yang mengkaji bahasa apapun tidak terbatas contohnya pada penyusunan kamus
dan penerjemahan
Poliglot sendiri
sering disebut multibahasa. Seorang Ahli Bahasa, Richard Hudson memberikan
istilahnya pada seseorang yang menguasai lebih dari enam bahasa yaitu
‘hiperpoliglot’. Belum ada penjelasan tentang
batasan jumlah bahasa seseorang yang dikatakan sebagai ‘poliglot’, ada yang
mengatakan antara empat sampai lebih. Karena penutur dua atau tiga bahasa biasanya disebut dwibahasa (bilingual) dan tribahasa (trilingual).
Oleh karena itu, terbentuklah komunitas Poliglot
di daerah Yogyakarta, Indonesia yang dibuat untuk bagi penggemar bahasa yang
sudah menguasai atau sedang mempelajari beberapa bahasa. Terinspirasi dari Poliglotclub di Paris, Monis Pandhu dan
Sandya Rani Kartosengodjo selaku pendiri komunitas tersebut ingin agar memperbanyak
jam praktik penggunaan bahasa asing yang sedang dipelajari dalam suasana yang
santai dan menyenangkan.
Mereka mengadakan pertemuan poliglot pertama kali
pada Agustus 2010. Namun, karena di tahun 2011 kegiatan poliglot tersebut
dirasa kurang aktif, sebab beberapa koordinator komunitas tersebut melanjutkan
pendidikan ke luar negeri. Arradi Nur Rizal yang berdomisili di Stockhlom,
Swedia, juga memiliki ide untuk mengadakan pertemuan antar teman yang serupa. Di
awal tahun 2012, terbentuklah Poliglot Indonesia dengan koordinator yang ada di
setiap kota.
Tersebar di enam kota yaitu, Jakarta, Bandung,
Aceh, Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang, saat ini Poliglot Indonesia sudah
berkembang pesat. Apalagi dengan adanya sosial media Facebook, tak jarang warga
negara asing juga menjadi pengikut. Latar belakang profesi yang tergabung dalam
Poliglot Indonesia juga bervariasi, mulai dari wirausahawan, pegawai Kementrian
Luar Negeri, pelajar, aktivis lembaga swadaya masyarakat, sampai dosen.
Anggota dan koordinator Poliglot Indonesia
rata-rata mempelajari dan menggunakan lima bahasa. Pendiri Poliglot Indonesia,
Rizal, mengatakan bahwa ada seseorang di komunitasnya yang bernama Vremita.
Perempuan tersebut bisa berbicara dalam sebelas bahasa.
Kegiatan Poliglot Indonesia bukan hanya belajar
bahasa. Mereka juga saling bertukar informasi positif, seperti, info beasiswa,
kegiatan-kegiatan kebudayaan, info akademis, info travel, dan tentu saja untuk
melebarkan tali peremanan. Komunitas ini mempertemukan mereka dengan
orang-orang asing yang mana membuat bahasa Indonesia disegani dan bahkan
dipelajari.
Jadi, selain bisa mendapat teman dari negara lain,
sekaligus juga dapat mendapat partner untuk saling mengajarkan bahasa. Ditambah
pertemuan yang dibuat santai serta menyenangkan. Menurut Rizal, tidak ada
perlakuan intimidasi terhadap anggota baru dari anggota lain yang sudah mahir.
Semoga bermanfaat :)
Sumber :
Kosasih,
Engkos. 2013. Cerdas Bebahasa Indonesia
Jilid Satu. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Dirangkum
dari Okezone.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar