Menurut buku Psikologi
Perkembangan, Hurlock, ada beberapa sebab umum mengapa masa remaja itu bisa
bertentangan terhadap keluarga dan lingkungan sekitarnya. Berikut adalah
pembahasannya.
Remaja menyebutnya sebagai
standar perilaku. Remaja sering menganggap standar perilaku orang tua yang kuno
dan yang modern berbeda dan standar perilaku orang tua yang kuno terkadang
harus mampu menyesuaikan dengan keadaan apa yang sedang terjadi sekarang di
kalangan remaja. Karena tidak mungkin ‘kan, orang tua masih berpikiran ala masa
lalu dan yang sekarang ditinggalkan.
Kemudian, ada metode disiplin.
Metode disiplin yang digunakan orang tua dianggap “tidak adil” atau
“kekanak-kanakan” maka remaha akan memberontak dan bahkan melawan.
Pemberontakan yang terbesar terjadi dalam keluarga di mana salah satu orang tua
lebih berkuasa daripada yang lainnya, terutama bila ibu yang mempunyai
kekuasaan terbesar. Sebaliknya, dalam hubungan perkawinan yang sederajat jumlah
pemberontakan tidak terlampau banyak.
Setiap remaja pasti pernah
punya masalah dengan saudara kandung. Pada saat menginjak masa remaja, remaja
tersebut akan mulai mencela saudara kandungnya sendiri, baik secara kasar
maupun halus dengan fisik ataupun tidak. Bahkan ada yang sampai membenci
saudara kandungnya sendiri. Hal ini wajar, karena emosi pada rasa iri remaja
tersebut masih kurang terkontrol.
Remaja juga merasa menjadi
korban. Remaja sering merasa benci kalau status sosioekonomi keluarga tidak
memungkinkannya mempunyai simbol-simbol status yang sama dengan yang dimiliki
teman-teman, seperti pakaian, mobil, dan sebagainya; remaja tidak suka bila
harus memikul tanggung jawab rumah tangga seperti merawat adik, orang tua tiri
masuk rumah dan mencoba “memerintah”. Hal ini bisa membuat ketegangan antara
hubungan orang tua-remaja.
Sebagian anggota keluarag tidak
menyukai sikap remaja yang terlampau kritis terhadap mereka dan terhadap pola
kehidupan keluarga pada umumnya. Padahal, masa remaja adalah masa di mana
pencarian jati diri sedang bingung-bingungnya. Seharusnya, sebagai orang tua cukup
dengan memberi tahu remaja apa-apa yang membuatnya bingung atau pun mungkin
menjawabnya dengan baik agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Lalu, dalam keluarga sedang
yang terdiri dari tiga atau empat anak lebih sering terjadi pertentangan tangan
dibandingkan dengan dalam keluarga kecil atau keluarga besar. Orang tua dalam
keluarga besar tidak membenarkan adanya pertentangan, sedangkan dalam keluarga
kecil remaja bersikap lebih lunak dan tidak merasa perlu untuk memberontak.
Bila sering remaja mengabaikan
tugas-tugas sekolah, maka orang tua sering mengembangkan sikap menghukum.
Apalagi jika melalaikan atau membelanjakan uang semaunya. Remaja membenci sikap
kritis dan sikap menghukum ini. Karena menurut remaja hal ini adalah wajar dan
mungkin remaja tersebut ada masalah pada dirinya.
Memberontak terhadap sanak
keluarga. Orang tua dan sanak keluarga menjadi marah bila remaja mengungkapkan
perasannya secara terang-terangan bahwa pertemuan-pertemuan keluarga
“membosankan” atau bila remaja menolak usul dan nasihat-nasihat mereka.
Dan yang terakhir adalah
masalah yang sepertinya sering dialami oleh semua remaja yaitu, jam pulang
malam. Kehidupan sosial remaja yang baru dan yang lebih aktif dapat
mengakibatkannya melanggar peraturan keluarga mengenai waktu pulang dan
mengenali teman-teman dengan siapa ia berhubungan, terutama teman-teman lawan
jenis.
Semoga
bermanfaat :)
Sumber
:
Hurlock,
Elizabeth B. Psikologi Perkembangan Edisi
Kelima. Erlangga. Hal 233.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar