Jumat, 23 Desember 2016

Sebab-Sebab Umum Pertentangan Keluarga Selama Masa Remaja



                 Menurut buku Psikologi Perkembangan, Hurlock, ada beberapa sebab umum mengapa masa remaja itu bisa bertentangan terhadap keluarga dan lingkungan sekitarnya. Berikut adalah pembahasannya.
                 Remaja menyebutnya sebagai standar perilaku. Remaja sering menganggap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern berbeda dan standar perilaku orang tua yang kuno terkadang harus mampu menyesuaikan dengan keadaan apa yang sedang terjadi sekarang di kalangan remaja. Karena tidak mungkin ‘kan, orang tua masih berpikiran ala masa lalu dan yang sekarang ditinggalkan.
                 Kemudian, ada metode disiplin. Metode disiplin yang digunakan orang tua dianggap “tidak adil” atau “kekanak-kanakan” maka remaha akan memberontak dan bahkan melawan. Pemberontakan yang terbesar terjadi dalam keluarga di mana salah satu orang tua lebih berkuasa daripada yang lainnya, terutama bila ibu yang mempunyai kekuasaan terbesar. Sebaliknya, dalam hubungan perkawinan yang sederajat jumlah pemberontakan tidak terlampau banyak.
                 Setiap remaja pasti pernah punya masalah dengan saudara kandung. Pada saat menginjak masa remaja, remaja tersebut akan mulai mencela saudara kandungnya sendiri, baik secara kasar maupun halus dengan fisik ataupun tidak. Bahkan ada yang sampai membenci saudara kandungnya sendiri. Hal ini wajar, karena emosi pada rasa iri remaja tersebut masih kurang terkontrol.
                 Remaja juga merasa menjadi korban. Remaja sering merasa benci kalau status sosioekonomi keluarga tidak memungkinkannya mempunyai simbol-simbol status yang sama dengan yang dimiliki teman-teman, seperti pakaian, mobil, dan sebagainya; remaja tidak suka bila harus memikul tanggung jawab rumah tangga seperti merawat adik, orang tua tiri masuk rumah dan mencoba “memerintah”. Hal ini bisa membuat ketegangan antara hubungan orang tua-remaja.
                 Sebagian anggota keluarag tidak menyukai sikap remaja yang terlampau kritis terhadap mereka dan terhadap pola kehidupan keluarga pada umumnya. Padahal, masa remaja adalah masa di mana pencarian jati diri sedang bingung-bingungnya. Seharusnya, sebagai orang tua cukup dengan memberi tahu remaja apa-apa yang membuatnya bingung atau pun mungkin menjawabnya dengan baik agar tidak terjadi kesalahpahaman.
                 Lalu, dalam keluarga sedang yang terdiri dari tiga atau empat anak lebih sering terjadi pertentangan tangan dibandingkan dengan dalam keluarga kecil atau keluarga besar. Orang tua dalam keluarga besar tidak membenarkan adanya pertentangan, sedangkan dalam keluarga kecil remaja bersikap lebih lunak dan tidak merasa perlu untuk memberontak.
                 Bila sering remaja mengabaikan tugas-tugas sekolah, maka orang tua sering mengembangkan sikap menghukum. Apalagi jika melalaikan atau membelanjakan uang semaunya. Remaja membenci sikap kritis dan sikap menghukum ini. Karena menurut remaja hal ini adalah wajar dan mungkin remaja tersebut ada masalah pada dirinya.
                 Memberontak terhadap sanak keluarga. Orang tua dan sanak keluarga menjadi marah bila remaja mengungkapkan perasannya secara terang-terangan bahwa pertemuan-pertemuan keluarga “membosankan” atau bila remaja menolak usul dan nasihat-nasihat mereka.
                 Dan yang terakhir adalah masalah yang sepertinya sering dialami oleh semua remaja yaitu, jam pulang malam. Kehidupan sosial remaja yang baru dan yang lebih aktif dapat mengakibatkannya melanggar peraturan keluarga mengenai waktu pulang dan mengenali teman-teman dengan siapa ia berhubungan, terutama teman-teman lawan jenis.

Semoga bermanfaat :) 



Sumber :
Hurlock, Elizabeth B. Psikologi Perkembangan Edisi Kelima. Erlangga. Hal 233. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar