Pada umumnya, operasi dilakukan di
tempat yang sangat stabil, dan bahkan sama sekali bebas guncangan. Bagaimana
jika operasi harus dilakukan di ruang angkasa, tepatnya pada pesawat antariksa,
atau mungkin ketika terjadi gempa bumi?
Akhir September 2006 lalu, tim yang
terdiri dari lima ahli bedah asal Perancis dengan ketua bernama Martin menjawab tantangan tersebut.
Mereka melakukan uji coba pembedahan yang sebenarnya pada seseorang di pesawat
terbang. Bayangkan saja, ruang pesawat terbang tersebut seketika berubah
menjadi ruang operasi atau kamar operasi yang higienis dan steril. Kamar
tersebut dilengkapi dengan peralatan operasi khusus, di mana tiap perangkat
mengandung magnet, sehingga bisa tetap pada posisi dan tidak ikut ‘terbang’
kesana kemiri, terutama ketika pesawat berada pada kondisi yang nyaris tanpa
gravitasi bumi (zero gravity).
Pesawat terbang tersebut ada pada
ketinggian 6500 m sampai 8500 m. Untuk memperoleh zero gravity, secara total pesawat harus terguncang menukik, dan
naik turun ibarat sedang bermain roller
coaster sebanyak 22 kali. Bahkan, manuver bagai lengkung parabola itu harus
mereka lakukan hingga mencapai titik yang bisa dikatakan tidak adanya
gravitasi.
Dan yang sungguh mengejutkan, operasi
justru dilakukan oleh para dokter selama rentang waktu pesawat dalam posisi
“terpental-pental”. Pasien yang menderita tumor ringan di lengan telah dibius
sesaat sebelum pesawat tinggal landas. Operasi pengangkatan tumor ringan itu
sendiri hanya memerlukan waktu sekitar 11 menit dari total sekitar 3 jam,
pesawat Airbus 300 “Zero-G” melayang-layang
di langit Perancis.
Menurut Martin, tantangan berikutnya
adalah melakukan pembedahan dengan robot yang dikendalikan dari bawah
menggunakan satelit. Operasi ini dilakukan jika sedang berada di ruang angkasa.
Jika ini berhasil dilakukan, para astronot yang memerlukan operasi tidak perlu
menghabiskan waktu beberapa hari hanya untuk kembali ke bumi dan melakukan
operasi. Pengobatan jarak jauh dan pembedahan jarak jauh dapat dilakukan dari
bumi. Menurut para ahli, perangkat ini bisa digunakan dalam kondisi darurat di
beberapa lokasi sulit, seperti di dalam gua atau gedung yang sedang terkena
guncangan dahsyat gempa.
Semoga
bermanfaat :)
Sumber :
Kanginan,
Marthen. 2013. Fisika 1 untuk SMA/MA
Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Koran Kompas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar