Propolis adalah bahan perekat
yang dikumpulkan lebah untuk membuat sarang menjadi steril. Senyawa yang
diekstrak dari propolis dinilai efektif sebagai terapi tambahan bagi pasien
demam berdarah dengue. Dengan terapi yang diberikan pada hari ketiga atau
keempat perawatan kepada pasien derajat satu atau pada tahap belum mengalami
kebocoran di pembuluh darah.
Kepala Divisi Penyakit Tropik
dan Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Subroto, Letnan Kolonel (Ckm)
Soroy Lardo bersama rekan-rekannya merupakan tim peneliti pada uji klinis
tersebut. Peneliti lain adalah dokter spesialis penyakit dalam Kolonel (Ckm)
Djoko Wibisono, dokter spesialis kesehatan jiwa Letkol (Ckm) Bagus Sulistyo
Budhi, dan dokter asisten pada Departemen Penyakit Dalam RSPAD Gatot Subroto
Yongkie Iswandi Purnama.
Tim peneliti tersebut menguji
senyawa ekstrak propolis yang merupakan kombinasi propolis dari sejumlah
negara, antara lain Amerika Serikat, Tiongkok, dan negara di Eropa.
Menurut Soroy, tercatat 63
pasien berusia 17-50 tahun mengikuti uji klinis. Rinciannya, 31 pasien pada
kelompok dengan terapi ekstrak propolis, sedangkan 32 pasien pada kelompok
plasebo (tanpa terapi ekstrak propolis). Dosis ekstrak propolis tiga kali dua
kapsul per hari selama tujuh hari dengan takaran 200 miligram per kapsul.
Terbukti dengan hasil yang
memuaskan, jumlah pasien yang diberi ekstrak propolis lebih cepat naik daripada
pasien kelompok plasebo. Dimulai dari hari ketiga hingga ketujuh. Hari ketujuh,
jumlah trombosit pasien dengan ekstrak propolis rata-rata 146.670 trombosit per
mikroliter. Dan, rawat inapnya hanya 4,96 hari, lebih singkat dibandingkan
dengan kelompok plasebo yang rata-rata rawat inapnya 5,46 hari.
Tambahan dari Bagus, ia tak
menentukan efek samping dari terapi ekstrak propolis. Apalagi, selama ini
konsumsi produk lebah dan madu aman di masyarakat. Mungkin efek yang terjadi
adalah mual dan muntah. Tapi itu wajar, karena orang yang demam juga biasa
mengalami hal tersebut.
Semoga
bermanfaat :)
Sumber :
Anggraini,
Nita Dewi dkk. 2013. Bahasa Indonesia
SMA/MA dan SMK/MAK Kelas XII Semester 1. Jakarta: Viva Pakarindo.
Koran
Kompas, edisi 6 Maret 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar