Rabu, 14 Desember 2016

Hak Kespro Bagi Remaja Yang Tabu Dibicarakan Tetapi Penting


          Belakangan ini sering ramai diberitakan melalui televisi, radio maupun yang tersebar di internet tentang kasus-kasus remaja yang hamil di luar nikah, seks bebas, terjangkit HIV (AIDS), kekerasan seksual, pemerkosaan dan masih banyak semacamnya. Bahkan kejadiannya sudah sampai pada tahapan yang mengkhwatirkan, terutama di kota-kota besar dan juga sudah menyebar di wilayah Indonesia. Hal ini berdampak signifikan bagi diri sendiri tentu saja, orang tua, guru serta masyarakat luas. Tak jarang ada yang berakhir pada pembunuhan terhadap korbannya.
Kesehatan reproduksi (Kespro) didefiniskan sebagai kondisi sehat secara fisik, mental dan sosial. Bukan saja terbebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan fungsi, sistem dan proses reproduksi manusia untuk melanjutkan keturunan saja (WHO). Sementara kesehatan reproduksi remaja dapat diartikan sebagai keadaan sehat secara fisik, mental dan sosial seorang remaja. Bukan hanya sebatas terbebas dari kehamilan yang yang tidak di inginkan, aborsi yang tidak aman, penyakit menular seksual (PMS), ataupun HIV dan AIDS, serta bentuk tindak kekerasan dan pemaksaan seksual.
Namun, mengapa kalau kita membicarakan kasus-kasus yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja (KRR) masih terdengar tabu? Bahkan kadang tak jarang agak terasa menganggu. Lagipula jika membahasnya pun tidak akan ada habisnya. Sedikit sekali kita dengar diskusi-diskusi perihal kesehatan reproduksi yang dilakukan antara orang tua dengan anak remajanya. Walaupun ada, pembicaraanya tidak jauh dari seputar pantas dan tidak pantas atau berkisar larangan tidak boleh ini dan tidak boleh itu tanpa menjelaskan kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan.
Inilah kegagalan orang dewasa (orang tua) dalam memberikan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi kepada anak remajanya. Di sisi lain, penolakan atas pendidikan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual kadang hanya di dasarkan pada ketakutan “bahwa mengajarkan topik ini pada remaja, hanya akan mendorong remaja untuk melakukan hubungan seksual”.
Lalu, kalau sudah seperti itu, apa sebaiknya yang harus kita lakukan untuk diri sendiri dan teman kita? Bagaimana pula dengan tanggung jawab dari orang tua, guru serta pemerintah? Faktor lain hambatan pemenuhan hak kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual remaja adalah remaja dianggap makhluk yang sepenuhnya belum matang dan secara alamiah akan paham perihal seksualitas seiring bertambahnya usia. Sebuah anggapan yang tidak sepenuhnya benar, karena faktanya, banyak penelitian kesehatan reproduksi dan kesehatan seksualitas remaja, menyimpulkan bahwa remaja membutuhkan informasi dan pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, mereka melarikan diri ke sumber-sumber seperti teman-temannya, media pornografi dan media massa yang belum tentu cocok bagi mereka.
Menjadi remaja di zaman sekarang, bukanlah hal yang mudah. Jika remaja dulu dengan perkembangan teknologi dan informasi yang seadanya, maka remaja sekarang di hadapkan dengan kemajuan teknologi informasi yang canggih dan beraneka ragam. Walau bagaimanapun juga, kemajuan teknologi mempunyai dampak baik dan buruk bagi perkembangan remaja, seperti perubahan perilaku seksual mereka.
Remaja tidak boleh sepenuhnya di salahkan, karena orang dewasa yang berada di sekelilingnya tidak memberikan informasi yang benar dan bertanggung jawab seputar kesehatan reproduksi pada mereka. Sudah saatnya orang dewasa memberikan dan membuka akses pendidikan kesehatan reproduksi dan kesehatan seksualitas terutama pada para remaja. Bukan saatnya lagi memperdebatkan pantas dan tidak pantas.
          Saatnya berikan waktu untuk remaja agar bisa mendiskusikan kehidupan dan tumbuh kembang mereka, karena hal ini menjadi konsekuensi pertumbuhan itu sendiri. Remaja perlu diajarkan tentang tanggung jawab atas dirinya untuk membantu mereka berfikir dua kali saat memutuskan untuk melakukan kehidupan seks di luar nikah, mengkonsumsi NARKOBA, pornografi dan lain-lain. Karena semua perbuatan mereka, apapun itu selalu berhadapan dengan resiko yang sangat besar, baik yang bersifat fisik, mental maupun sosial.
          Sebagai remaja, kita juga perlu memiliki kesadaran akan hal-hal yang kita lakukan. Apabila keyakinan kita kuat maka tidak perlu susah untuk menghindari hal yang negatif. Tidak lupa pula, tanggung jawab ini tidak hanya berlaku bagi remaja itu sendiri, pemerintah juga harus aktif ikut andil dalam hal ini.

Semoga bermanfaat :) 



Sumber :
Kosasih, Engkos. 2013. Cerdas Bebahasa Indonesia Jilid Satu. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar