Belakangan
ini sering ramai diberitakan melalui televisi, radio maupun yang tersebar di
internet tentang kasus-kasus remaja yang hamil di luar nikah, seks bebas,
terjangkit HIV (AIDS), kekerasan seksual, pemerkosaan dan masih banyak
semacamnya. Bahkan kejadiannya sudah sampai pada tahapan yang mengkhwatirkan,
terutama di kota-kota besar dan juga sudah menyebar di wilayah Indonesia. Hal
ini berdampak signifikan bagi diri sendiri tentu saja, orang tua, guru serta
masyarakat luas. Tak jarang ada yang berakhir pada pembunuhan terhadap
korbannya.
Kesehatan reproduksi (Kespro)
didefiniskan sebagai kondisi sehat secara fisik, mental dan sosial. Bukan saja
terbebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan fungsi, sistem dan
proses reproduksi manusia untuk melanjutkan keturunan saja (WHO). Sementara
kesehatan reproduksi remaja dapat diartikan sebagai keadaan sehat secara fisik,
mental dan sosial seorang remaja. Bukan hanya sebatas terbebas dari kehamilan
yang yang tidak di inginkan, aborsi yang tidak aman, penyakit menular seksual
(PMS), ataupun HIV dan AIDS, serta bentuk tindak kekerasan dan pemaksaan
seksual.
Namun, mengapa kalau kita membicarakan
kasus-kasus yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi remaja (KRR) masih
terdengar tabu? Bahkan kadang tak jarang agak terasa menganggu. Lagipula jika
membahasnya pun tidak akan ada habisnya. Sedikit sekali kita dengar
diskusi-diskusi perihal kesehatan reproduksi yang dilakukan antara orang tua
dengan anak remajanya. Walaupun ada, pembicaraanya tidak jauh dari
seputar pantas dan tidak pantas atau berkisar
larangan tidak boleh ini dan tidak boleh itu tanpa
menjelaskan kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan.
Inilah kegagalan orang dewasa
(orang tua) dalam memberikan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi
kepada anak remajanya. Di sisi lain, penolakan atas pendidikan kesehatan
reproduksi dan kesehatan seksual kadang hanya di dasarkan pada ketakutan “bahwa
mengajarkan topik ini pada remaja, hanya akan mendorong remaja untuk melakukan
hubungan seksual”.
Lalu, kalau sudah seperti itu,
apa sebaiknya yang harus kita lakukan untuk diri sendiri dan teman kita?
Bagaimana pula dengan tanggung jawab dari orang tua, guru serta pemerintah?
Faktor lain hambatan pemenuhan hak kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual
remaja adalah remaja dianggap makhluk yang sepenuhnya belum matang dan secara
alamiah akan paham perihal seksualitas seiring bertambahnya usia. Sebuah
anggapan yang tidak sepenuhnya benar, karena faktanya, banyak penelitian
kesehatan reproduksi dan kesehatan seksualitas remaja, menyimpulkan bahwa
remaja membutuhkan informasi dan pengetahuan tersebut. Oleh karena itu, mereka
melarikan diri ke sumber-sumber seperti teman-temannya, media pornografi dan
media massa yang belum tentu cocok bagi mereka.
Menjadi remaja di zaman
sekarang, bukanlah hal yang mudah. Jika remaja dulu dengan perkembangan
teknologi dan informasi yang seadanya, maka remaja sekarang di hadapkan dengan
kemajuan teknologi informasi yang canggih dan beraneka ragam. Walau
bagaimanapun juga, kemajuan teknologi mempunyai dampak baik dan buruk bagi
perkembangan remaja, seperti perubahan perilaku seksual mereka.
Remaja tidak boleh sepenuhnya
di salahkan, karena orang dewasa yang berada di sekelilingnya tidak memberikan
informasi yang benar dan bertanggung jawab seputar kesehatan reproduksi pada
mereka. Sudah saatnya orang dewasa memberikan dan membuka akses pendidikan
kesehatan reproduksi dan kesehatan seksualitas terutama pada para remaja. Bukan
saatnya lagi memperdebatkan pantas dan tidak pantas.
Saatnya
berikan waktu untuk remaja agar bisa mendiskusikan kehidupan dan tumbuh kembang
mereka, karena hal ini menjadi konsekuensi pertumbuhan itu sendiri. Remaja perlu
diajarkan tentang tanggung jawab atas dirinya untuk membantu mereka berfikir
dua kali saat memutuskan untuk melakukan kehidupan seks di luar nikah,
mengkonsumsi NARKOBA, pornografi dan lain-lain. Karena semua perbuatan mereka,
apapun itu selalu berhadapan dengan resiko yang sangat besar, baik yang
bersifat fisik, mental maupun sosial.
Sebagai
remaja, kita juga perlu memiliki kesadaran akan hal-hal yang kita lakukan.
Apabila keyakinan kita kuat maka tidak perlu susah untuk menghindari hal yang
negatif. Tidak lupa pula, tanggung jawab ini tidak hanya berlaku bagi remaja
itu sendiri, pemerintah juga harus aktif ikut andil dalam hal ini.
Semoga bermanfaat :)
Sumber :
Kosasih,
Engkos. 2013. Cerdas Bebahasa Indonesia
Jilid Satu. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar