Jumat, 23 Desember 2016

Proses dan Teknik-Teknik Psikoanalisis Dalam Konseling



               Psikoanalisis memiliki tujuan untuk membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak.
                 
              Satu karakteristik konseling psikoanalisis adalah bahwa terapi atau analisis bersikap anonim atau tak dikenal dan bertindak dengan sangat sedikit menunjukkan pengalaman dan perasaannya, sehingga dengan demikian klien akan memantulkan perasaannya pada konselor. Selama terapi, klien maju melalui tahapan-tahapan tertentu :

1.   Pengembangan suatu hubungan dengan analisis, mengalami krisis penyembuhan, mendapatkan tilikan atau kesadaran dari diri klien terhadap pengalaman masa lampau yang tidak disadari.
2.  Pengembangan resistensi untuk lebih memahami diri sendiri.
3.  Pengembangan hubungan transparansi dengan konselor.
4.  Bekerja dengan hal-hal yang resistensi dan tertutup, dan mengakhiri terapi.

Begitu pula dengan teknik-teknik terapinya. Teknik-teknik dalam psikoanalis digunakan untuk meningkatkan kesadaran mendapatkan kesadaran dari diri klien yaitu intelektual ke dalam perilakunya dan memahami gejala-gejala yang tampak. Berikut ada lima teknik dasar yang musti dikuasai konselor dalam terapi psikoanalisis :

1.   Asosiasi Bebas
       Metode ini merupakan pengungkapan pengalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lalu. 

2.    Interpretasi
      Merupakan prosedur dasar yang digunakan dalam asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi, dan analisis transparansi.

3.    Analisis Mimpi
     Merupakan prosedur penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh kesadaran kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan. 

4.    Analisis dan Interpretasi Resistensi
    Resistensi, suatu konsep fundamental (pokok) praktik-praktik psikoanalisis, yang bekerja melawan kemajuan terapi dan mencegah klien untuk menampilkan hal-hal yang tidak disadai. Selama asosiasi bebas, atau asosiasi mimpi, klien mungkin cenderung menunjukkan ketidakmauan untuk mengaitkan perasaan, pemikiran, dan pengalaman tertentu. Freud memandang resistensi sebagai dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseorang untuk mempertahankan terhadap kecemasan. Hal ini akan timbul bila orang menjadi sadar terhadap dorongan dan perasaan yang tertekan.
    Resistensi bukan sesuatu yang harus diatasi, karena hal itu merupakan gambaran pendekatan pertahankan klien dalam kehidupan sehari-hari. Reseistensi harus diakui sebagai alat pertahankan menghadapi kecemasan. 

5.    Analis dan Interpretasi Transferensi
     Transferensi merupakan pemindahan terletak dalam arti terapi psikoanalisis. Transferensi muncul dengan sendirinya dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan klien masa lalu yang takkan terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kini dan mereaksi kepada analisis yang dia lakukan kepada ibunya atau ayahnya.

Semoga bermanfaat :) 



Sumber :
Hikmawati, Fenti. 2012. Bimbingan Konseling (edisi revisi). Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Halaman 98-100. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar