Apabila leburan dari dua macam logam atau
lebih dicampur dan tidak terjadi reaksi kimia setelah didinginkan, maka akan
terbentuk suatu padatan yang disebut aloi (lakur). Dari berbagai aloi, salah
satunya adalah nitinol. Nitinol
merupakan aloi dari nikel (Ni) dan titanium (Ti) dengan rasio yang hampir sama.
Dibandingkan dengan aloi lain, nitinol memiliki keistimewaan karena dapat
“mengingat” bentuknya semula, sehingga sering disebut dengan aloi yang memiliki
ingatan.
Bentuk asli yang dapat diingat oleh nitinol
didapatkan dengan cara memanaskan aloi pada 500-5500C selama satu
jam dan setelah itu dibiarkan dingin.
Awalnya, di tahun 1960, William J.Buehler,
seorang insinyur metalurgi di Laboratorium Naval Ordnance, Maryland, AS, sedang
mencari bahan untuk digunakan sebagai moncong rudal Angkatan Laut, dengan ketentuan
harus tahan benturan dan panas serta tidak kehilangan sifatnya ketika
dibengkokkan dan dibentuk. Akhirnya, setelah lama meneliti, dia menemukan
paduan (aloi) nikel dan titanium yang dapat dilipat dan dibuka kembali
berkali-kali tanpa patah. Seorang rekannya memegang korek api untuk melipat
lembaran logam tersebut dan takjub melihat lembaran logam tersebut kembali
terbuka dan kembali ke bentuk aslinya. Dari sinilah nama nitionol tercipta, yaitu dari Nikel,
Titanium, dan Naval Ordnance Laboratory.
Struktur yang ditemukan di atas temperatur
perubahan fase memiliki bentuk kubus simetri tinggi yang disebut asutenit
(bahan relatif kaku), sedangkan sturktur yang ditemukan di bawah temperatur
perubahan fase kurang simetris dan disebut martensit (bahan sangat elastis).
Perubahan nitinol bisa dilihat saat berada di fase austenit, dengan mengubah
bentuknya menjadi bentuk yang diinginkan. Ketika bentuk tersebut didinginkan
pada temperatur perubahan fase, bahan tersebut ada di fase martensit. Disini,
bentuk diubah dengan tekanan mekanik. Kelompok atom yang menyatu pada satu arah
akan menyesuaikan tekanan mekanis dengan menyatu dengan arah yang lainnya.
Mengikuti sturktur yang kurang simetris.
Sehingga, benda tersebut akan kembali ke
bentuk semula saat benda ada pada fase austenit, tentu saja dengan
mengembalikannya melalui peningkatan temperatur. Energi termal, diperoleh oleh
bentuk melalui pemanasan memberikan energi pada atom-atom yang diperlukan agar
kembali ke posisi aslinya dan begitu juga dengan benda tersebut.
Untuk aplikasi yang memanfaatkan nitinol,
bisa kita jumpai pada frame (bingkai) kacamata, termostat teko kopi, konektor
listrik, sistem pencair es, pipa pemanas, klem, dan patung. Untuk kecocokan
pada makhluk hidup (biokompatibilitas), nitinol memungkinkannya pada medis
seperti, stent pembuuh darah, jangkar
untuk tendon ke tulang, mengganti tulang paha yang rusak, alat-alat bedah yang
dapat ditekuk, dan perangkat untuk menutup lubang dalam hati. Juga, dalam
ortodonsi, nitinol digunakan sebagai kawat gigi.
Penelitian sedang dilakukan untuk
mengembangkan nitinol pada sel surya dan antena pada satelit dan keseimbangan
baling-baling rotor helikopter.
Semoga
bermanfaat :)
Sumber
:
http://mrsec.wis.edu/Edetc/background/memmetal/index.html;
Kotz, 2010: 1018
Rahardjo,
Sentot Budi dan Ispriyanto. 2014. Buku
Siswa Kimia Berbasis Eksperimen Untuk Kelas XII SMA dan MA. Jakarta: TIGA
SERANGKAI.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar