Minggu, 25 Desember 2016

Penjara Eropa Jadi Markas Radikalisasi


          Penjara-penjara di Eropa diam-diam telah menjadi markas kegiatan radikalisasi yang dilakukan para anggota kelompok militan. Kondisi tersebut terungkap berkat hasil penelitian sebuah lembaga riset di Inggris. Pusat Studi Radikalisasi dan Kekerasan Politik Internasional atau ICSR menemukan, ada dua kelompok yang menjadikan penjara sebagai ladang perekrutan sekaligus pengkaderan anggota. Yaitu, kelompok militan dan organisasi kriminal.
          Munculnya Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) semakin memperkuat kaitan antara kejahatan dan terorisme. Demikian hasil laporan yang meneliti profil para anggota yang direkrut di Eropa sejak 2011.
             Dan yang mengejutkan adalah fakta bahwa ISIS tidak lagi mencari “anak buah”-nya di universitas atau lembaga-lembaga keagamaan. Organisasi ini lebih memilih merekrut orang dengan latar belakang kriminal di kawasan miskin, penjara, dan pemukiman kumuh. Menurut penelitian tersebut, penjara “menyediakan” stok siap pakai. Di dalamnya terdapat pemuda-pemuda yang siap dipetik untuk kemudian diubah menjadi orang-orang yang radikal.
    Direktur ICSR, Peter Neumann mengatakan, batas antara kejahatan dan militansi kini semakin kabur. Menurutnya, penjara menjadi lokasi penting sebagai tempat di mana pembentukan jaringan terjadi. Apalagi dengan meningkatnya penangkapan terkait terorisme yang menyakinkan penjara sebagai tempat yang signifikan untuk memupuk gerakan militan.
  Proses radikalisasi ini semakin lancar terjadi di penjara-penjara, yang banyak dihuni residivis (penjahat yang sudah sering keluar masuk penjara dan melakukan serangkaian kejahatan besar. Perekrutan anggota baru di dalam penjara juga memungkinkan kelompok-kelompok militan menularkan kemampuan mereka, termasuk pengetahuan tentang persenjataan dan pembiayaan kegiatan lewat kejahatan.
  79 anggota kelompok militan asal Eropa yang memiliki latar belakang, kriminal, dari Belgia, Inggris, Denmark, Perancis, Jerman dan Belanda, berdasarkan penelitian. Semua orang ini pernah pergi ke luar negeri untuk terlibat dalam perang sebelum pulang kembali dan melakukan aksi terorisme di Eropa.
  Lima tahun terakhir ini telah diperkirakan lebih dari 5.000 warga negara-negara Eropa Barat terbang ke Timur Tengah untuk bergabung dengan ISIS dan Front Al-Fateh Sham, yang pernah berafiliasi dengan Al-Qaeda. Studi tersebut mengungkapkan sebanyak 57 persen dari seluruh warga Eropa itu pernah meringkuk di dalam penjara dan sedikitnya 27 persen menjadi radikal saat menjalani hukuman.

Semoga bermanfaat :) 



Sumber :

Artikel Koran Tribun News, edisi 12 Oktober 2016. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar