Minggu, 25 Desember 2016

Konseling Genetik


          Sudah pernah mendengar tentang konselor genetik sebelumnya? Jika belum, hal tersebut wajar karena memang di Indonesia sendiri belum terlalu terkenal dan masih terdengar aneh. Karena biasanya seorang konselor itu hanya melakukan kegiatan konseling pada lingkungan sekolah dan keluarga. Padahal konseling genetik untuk di masa depan sangat amat bermanfaat dan merupakan salah satu profesi dengan dua fungsi ganda sekaligus hebat.
          Konseling genetik pertama kali dipelopori oleh Prof. dr. Sultana MH Faradz, Ph.D yang merupakan satu-satunya lulusan konselor genetik Universitas Radboud Nijgmen, di Belanda asal Indonesia. Beliau pun menciptakan program studi S1 Konselor Genetik di Universitas Diponegoro sejak tahun 2007. Menurut beliau, sangat penting untuk mengetahui pola penurunan penyakit herediter dan konseling psikologi para pasien dan keluarga dengan menciptakan lingkungan yang kondusif.
       Prinsip konseling genetik berupa pemberian infromasi kepada pasien yang mendatanginya bukan nasehat. Secara universal, telah disepakati bahwa konseling genentik sifatnya tidak memaksa dan tidak mengarahkan pasien untuk tindakan khusus tertentu. Serta melakukan pendekatan terhadap pasien yang sifatnya bukan pengajuan. Sedangkan tujuan dari konseling genetik itu sendiri adalah memberikan informasi dan dukungan kepada keluarga yang memiliki resiko atau pun sudah memiliki anggota keluarga dengan kelainan genetik. Proses ini melibatkan upaya konselor dalam, memahami fakta medis (diagnosis), memahami kelainan tersebut terhadap pewarisan sifat turunan, dan memahami pilihan tepat dalam menangani penyakit.
       Seseorang pergi ke konselor genetik sebelum atau bisa juga selama masa kehamilan untuk mendiskusikan kemungkinan faktor-faktor yang dapat meningkatkan peluang memiliki anak dengan kelainan. Berikut hal-hal yang dilakukan dalam konseling genetik.
      Reaching Accurate Diagnosis, yaitu mencari tahu sejarah keluarga pasien kemudian mendiagnosis, dan terakhir melakukan pemeriksaan fisik untuk mengetahui adakah penyakit lainnya. Pemeriksaan yang berkaitan setelah semuanya adalah pemeriksaan radiologi dan analisis DNA. Dalam mendiagnosis, ada beberapa teknik yang dapat dilakukan. Seperti, Carrier Testing (penentuan pembawa satu salinan mutasi gen), Preimplementation Genetic Diagnosis (PGD) (mengurangi resiko memiliki anak dengan kelainan genetik), Prenatal Genetic (penangangan sebelum melahirkan), Newborn Screening (pengidentifikasian setelah kelahiran anak), Diagnostic/confirmatory Testing (diagnosis dan konfirmasi penyakit) dan terakhir Predictive Testing (penentuan kemungkinan adanya riwayat keluarga terhadap seseorang yang sehat).
       Estimation of Recurrence Risk, meliputi pembuatan pedigree (untuk mengetahui kelainan genetik lain yang diderita keluarga dan adakah kemungkinan pernikahan saudara) dan penerapan perhitungan resiko penyakit.
      Genentic Counseling, tahapan utama dan penting bagi konselor untuk memberikan yang dapat diambil oleh keluarga pasien untuk menghindari terulangnya kasus yang sama dan juga kalkulasi resiko.
    Desicion Making, setelah konselor memberikan pilihan-pilihan, maka saatnya pasien yang memutuskan tindakan apa yang musti dilakukan.
       Itulah beberapa yang perlu kita ketahui mengenai konseling genetik. Dan lagi, tantangan terbesar dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas konselor genetik adalah kurangnya dukungan alokasi dana baik dari pemerintah maupun swasta, karena uang pembangunan yang dibutuhkan sangat besar. Untuk kedepannya, konseling genetik mampu mengurangi pengaruh negatif penyakit herediter sambil meningkatkan kesejahteraan hidup pasien.

Semoga bermanfaat :) 



Sumber :
http://beranisehat.com/archives/genetic-counseling-di-indonesia-sudah-mulai-kah/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar