Minggu, 18 Desember 2016

Makna Filosofis Bimbingan dan Konseling


                Sudah menjadi hal yang wajar jika filsafat ada di kehidupan sehari-hari kita dan menempatkan dirinya dalam hal apa saja. Karena pada dasarnya, segala hal yang berkaitan dengan alam, lingkungan dan manusia, pasti semua memiliki makna filsafatnya sendiri-sendiri. Apalagi jika ada sesuatu yang bisa diragukan kebenarannya dan pada akhirnya adalah tugas kita untuk menemukan jawaban atas semua keraguan-raguan tersebut. Pengalaman lewat lingkungan orang tua, pendidikan, dan masyarakat memainkan peran pentingnya masing-masing. Tak jarang, makna filosofis bisa kadang terpikirkan oleh diri kita sendiri dan kita tidak cukup pandai menyadarinya. 
        Berbicara tentang makna dari Bimbingan dan Konseling, mari kita berkenalan dengan apa sih BK itu? Bimbingan dan Konseling adalah dua kata yang dapat diartikan secara terpisah, namun pengertiannya bisa tergabung dalam suatu arti kalimat baru. Bimbingan adalah salah satu cara pemberian bantuan dari ahli untuk membantu seseorang dalam menemukan jati diri mereka. Sedangkan, Konseling adalah upaya yang dilakukan konselor untuk membuat keadaan nyaman antara konselor dan konseli sehingga menimbulkan usaha penyelesaian yang baik bagi si konseli itu sendiri. Jadi, bisa disimpulkan bahwa Bimbingan dan Konseling merupakan suatu cara yang dilakukan oleh seorang ahli dalam membantu seseorang untuk menemukan jati dirinya sehingga dapat berkembang secara optimal.  
          Prayitno dan Erman Amti (2003: 203-204) mengemukakan pendapat Belkin (1975) yaitu bahwa, pelayanan bimbingan dan konseling meliputi kegiatan atau tindakan yang semuanya diharapkan merupakan tindakan yang bijaksana. Untuk itu diperlukan pemikiran filsafat tentang berbagai hal yang bersangkut-paut dalam pelayanan bimbingan dan konseling, khususnya dalam membantu konselor dalam memahami situasi konseling dalam mengambil keputusan yang tepat. Di samping itu, filsafat memberikan pandangan hidup bagi konselor lebih mantap dan lebih efektif dalam penerapan upaya pemberian bantuan.
          Landasan filosofis bimbingan dan konseling di Indonesia adalah Pancasila. Implikasinya adalah seperti, tujuan bimbingan dan konseling itu adalah memfasilitasi individu (peserta didik) agar mampu mengembangkan potensi, fitrah, atau jati diri sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. caranya dengan memperbanyak ibadah agar iman kita kuat, lalu mengembangkan sifat-sifat positif, contohnya seperti, adil terhadap sesama, menghormati diri sendiri dan sesama, memiliki empati. Kemudian bisa mengembangkan sikap kerjasama yang baik, selalu hargai pendapat orang lain, terbuka terhadap kritikan, mengayomi masyarakat. Terakhir dengan bangun kesadaran diri sendiri untuk membangun bangsa dalam berbagai aspek agar terciptanya masyarakat yang aman dan damai.
          Makna filosofisnya, mungkin bimbingan dan konseling bisa diibaratkan sebagai rumah yang melindungi penghuninya. Tanpa kita sadari, setiap rumah pasti memiliki kenyamanan tersendiri yang tak pernah kita rasakan di setiap tempat lainnya, memberikan rasa aman, tenang, dan bebas. Namun, di dalam rumahlah semua masalah lebih mudah terselesaikan, bahkan bisa menemukan solusi terbaik. Di rumah, segala hal tentang diri kita seperti terasa tersalurkan, tanpa kenal ragu dan takut.
          Maka dari itu, seorang konselor harus mampu sebagai pengayom para konseli, yang diibaratkan sebagai sebuah rumah, pemberi rasa aman, nyaman, tenang, dan bebas sehingga lambat laun si konseli mampu terbuka dengan segala hal yang mereka miliki, entah itu masalah atau pun sesuatu yang spesial. Namun, ingatlah, bahwa konselor selalu memiliki asas rahasia yang musti dilaksanakan sebaik mungkin. 

Semoga bermanfat :)


Sumber :

Yusuf, Syamsu dan Juntika Nurihsan. 2016. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Halaman 107 dan 113. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar