Jumat, 30 Desember 2016

Kegiatan Ini Dibenci, Tapi Sering Dilakukan


          Pernahkah kalian merasa sebenarnya bosan melakukan hal-hal tersebut tapi kenapa justru malah dilakukan paling sering? Dan kita memang mudah mengeluh bukan? Dan, berikut lima diantaranya.
1.        Rapat. Rapat dinilai sebagai aktivitas yang biasanya dilakukan dalam durasi yang lama dan berlangsung membosankan. Penelitian University of North Carolina di Charlotte, mengatakan jika umumnya kegiatan tersebut hanya pura-pura mengangguk sambil melihat slide demi slide untuk menghargai yang presentasi. Lalu, mengapa tetap kita lakukan? Secara tidak sadar, dalam rapat banyak hal baru yang dapat ditemukan. Seperti slide yang menghibur, pertanyaan dan jawaban dari rekan yang sangat menarik, dan besosialisasi.

2.     Mebel-mebel dan mainan rakitan. Sebenarnya manusia tidak menyukai segala sesuatu yang rumit. Karena kita akan dianggap tak disukai oleh orang lain. Jadi kenapa secara tidak sadar kita malah suka? Terkadang kita bilang tidak suka, tapi kita tetap membelinya. Karena, biasanya, mereka yang merakit sebuah mebel dan diminta untuk mematok sebuah harga akan lebih tinggi dibanding kalau yang langsung. Karena merakit juga membuat seseorang merasa lebih kompeten.

3.    Menonton siaran televesi berulang kali. Kartun di televisi sering sekali tayang bahkan hampir puluhan kali., tapi kenapa kita masih menontonya? Sebenarnya semua sudah terungkap dari sejak kita kecil, ketika kita meinta orang untuk membacakan cerita berulang kali. Penelitian mengungkap bahwa hal yang menghilang dari tayangan ulang hanyalah faktor kejutannya, karena kita telah tau setiap jalan ceritanya. Selebihnya adalah hiburan. Tayangan ulang memiliki tingkat menghibur yang sama dengan tayangan baru. Dan energi yang dibutuhkan juga lebih ringan.

4.    Rasa bersalah atau menyesal. Hal ini sedikit aneh karena sebenarnya yang kita sukai bukan lah rasa atau nikmatnya aktivitas "berdosa" yang kita lakukan, penelitian menyebutkan bahwa yang kita nikmati sebenarnya adalah rasa bersalahnya. Rasa bersalah itu kita upload dan pamerkan di media sosial, agar secara sosial kita diterima dan gak dianggap sebagai orang yang rakus serta seenaknya sendiri. Penelitian dilakukan dengan menyuruh beberapa responden untuk mendengarkan nasihat mereka selama 10 menit, kemudian mereka akan diberikan sebuah coklat. Mereka yang merasa bersalah akibat mendengarkan nenek mereka hanya karena sebuah coklat dinilai lebih menikmati coklatnya daripada mereka yang gak merasa bersalah. Rasa bersalah itu diketahui menambah kenikmatan saat melakukan sesuatu yang "berdosa".

Semoga bermanfaat :)



Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar