Jumat, 30 Desember 2016

Dari Pohon, Oleh Kertas, Untuk Tisu


              Benda tipis nan bersih ini siapa yang tidak pernah menggunakannya walau hanya sekali? Tentu saja, semua orang pasti pernah menggunakan tisu. Tapi tahukah kalian jika tisu ternyata diolah dari kertas yang tadinya bersumber dari pohon? Saya sendiri pun sempat kaget setelah mengetahui dari mana asalnya tisu diproduksi.
              Hal sepele yang kita sertakan dengan tisu dan dalam jumlah yang berlebih, sebenarnya membuat produksi tisu makin menjadi-jadi. Sehingga perlu banyak pohon yang musti ditebang. Tisu sendiri mulai dibuat sekitar tahun 1880-an.
              Tisu sejatinya terbuat dari serat kayu yang berdaun jarum atau pinus atau pun yang memiliki serat kayu panjang. Proses pembuatan kertas, termasuk pembuatan tisu, membutuhkan teknik chipping (memotong-motong menjadi irisan tipis), grounding (meratakan permukaan), pressing (memadatkan), drying (mengeringkan), dan chlorine bleaching wood (pemutihan kayu dengan klorin).
              Bayangkan saja, jika dalam 1 pack terdapat 20 lembar tisu dan 1 pohon berumur 6 tahun hanya dapat menghasilkan 2 pack tisu yang isinya 40 lembar, maka berapa banyak pohon yang musti dibabat habis untuk 100 lembar, 200 lembar, 500 lembar, dan bahkan beberapa pabrik tisu ternama setiap harinya? Kemungkinan 10.000 pohon.
              Padahal kita sudah tahu, akhir-akhir ini isu mengenai global warming memang sedang marak. Kemudian kita tahu bukan jika salah satu penyebabnya adalah lahan hutan yang semakin berkurang dan banyaknya pohon-pohon yang ditebang secara ilegal dan legal, tapi massal? Indonesia sendiri sudah hampir kehilangan “sebagian” dari lahan hutan yang dijadikan paru-paru dunia yaitu sekitar 72%.
              Jika pohon-pohon tersebut ditebang secara massal dan tidak menerapkan teknik tebang pilih tanam, maka dampaknya akan terkena ke kita pula. Walaupun akan tumbuh, tapi setidaknya, pertumbuhan pohon untuk menjadi pohon tidaklah satu dua hari, melainkan hingga bertahun-tahun lamanya. Itu pun jika kita ingin melihat lahan hutan rimbun diperlukan waktu hampir seabad lamanya. Memang sangat mudah menghancurkan sesuatu yang sudah payah-payah tercipta.
              Dan parahnya lagi, setiap pohon yang sudah tumbuh, bukannya dibiarkan tumbuh dan berkembang seperti sedia kala, ternyata malah dijadikan pohon-pohon untuk pertaninan. Sehingga, hutan-hutan tersebut tumbuh, tetapi hanya dengan satu jenis pohon. Tentu saja hal negatif akan mempengaruhi hewan-hewan yang hidup disana sebagai habitatnya.
              Selain itu pula, tisu juga memiliki dampak negatif. Yaitu zat kimia yang terkandung dalam kertas tisu dapat berpindah ke makanan. Zat tersebut adalah klor untuk memutihkan kertas yang bakal jadi tisu. Diketahui klor dapat memicu kanker karena sifatnya karsinogenetik.
              Oleh karena itu, ayo kita beralih dari tisu ke sapu tangan atau pun handuk kecil. Selain mudah dibawa-bawa karena ringan, sapu tangan atau handuk kecil jika kotor dapat dicuci kembali oleh kita dan mudah kering. Memang sih, tidak sepraktis tisu, tapi setidaknya kita diam-diam sudah membantu alam bangkit kembali. Satu orang saja yang melakukan kebaikan, maka setidaknya bisa mengurangi produksi tisu massal. Apalagi kita secara intensif mengajak teman-teman, keluarga, saudara untuk menggunakan sapu tangan.

Semoga bermanfaat :)



Sumber :

m.kompasiana.com/khoirurrohmah/ada-apa-dibalik-penggunaan-tisu_54f910cca33311ed068b458b

1 komentar:

  1. Kayu daun lebar (kayu keras) yang biasa digunakan pada pembuatan kertas yaitu kayu pohon Akasia sedangkan kayu daun jarum (kayu lunak) yaitu kayu pohon Pinus. Kayu lunak yang memiliki panjang dan kekasaran lebih besar digunakan untuk memberi kekuatan pada kertas. Kayu keras lebih halus dan kompak sehingga menghasilkan permukaan kertas yang halus. Kayu keras juga lebih mudah diputihkan hingga warnanya lebih terang karena memiliki lebih sedikit lignin. Kertas umumnya tersusun atas campuran kayu keras dan kayu lunak untuk mencapai kekuatan dan permukaan cetak yang diinginkan pembeli. Jasa Penulis Artikel Pabrik penerima limbah kardus

    BalasHapus