Benda tipis nan bersih ini siapa
yang tidak pernah menggunakannya walau hanya sekali? Tentu saja, semua orang
pasti pernah menggunakan tisu. Tapi tahukah kalian jika tisu ternyata diolah
dari kertas yang tadinya bersumber dari pohon? Saya sendiri pun sempat kaget
setelah mengetahui dari mana asalnya tisu diproduksi.
Hal sepele yang kita sertakan
dengan tisu dan dalam jumlah yang berlebih, sebenarnya membuat produksi tisu
makin menjadi-jadi. Sehingga perlu banyak pohon yang musti ditebang. Tisu
sendiri mulai dibuat sekitar tahun 1880-an.
Tisu sejatinya terbuat dari serat
kayu yang berdaun jarum atau pinus atau pun yang memiliki serat kayu panjang.
Proses pembuatan kertas, termasuk pembuatan tisu, membutuhkan teknik chipping (memotong-motong menjadi irisan
tipis), grounding (meratakan
permukaan), pressing (memadatkan), drying (mengeringkan), dan chlorine bleaching wood (pemutihan kayu dengan klorin).
Bayangkan saja, jika dalam 1 pack
terdapat 20 lembar tisu dan 1 pohon berumur 6 tahun hanya dapat menghasilkan 2
pack tisu yang isinya 40 lembar, maka berapa banyak pohon yang musti dibabat
habis untuk 100 lembar, 200 lembar, 500 lembar, dan bahkan beberapa pabrik tisu
ternama setiap harinya? Kemungkinan 10.000 pohon.
Padahal kita sudah tahu,
akhir-akhir ini isu mengenai global warming memang sedang marak. Kemudian kita
tahu bukan jika salah satu penyebabnya adalah lahan hutan yang semakin
berkurang dan banyaknya pohon-pohon yang ditebang secara ilegal dan legal, tapi
massal? Indonesia sendiri sudah hampir kehilangan “sebagian” dari lahan hutan
yang dijadikan paru-paru dunia yaitu sekitar 72%.
Jika pohon-pohon tersebut ditebang
secara massal dan tidak menerapkan teknik tebang pilih tanam, maka dampaknya
akan terkena ke kita pula. Walaupun akan tumbuh, tapi setidaknya, pertumbuhan
pohon untuk menjadi pohon tidaklah satu dua hari, melainkan hingga
bertahun-tahun lamanya. Itu pun jika kita ingin melihat lahan hutan rimbun
diperlukan waktu hampir seabad lamanya. Memang sangat mudah menghancurkan
sesuatu yang sudah payah-payah tercipta.
Dan parahnya lagi, setiap pohon
yang sudah tumbuh, bukannya dibiarkan tumbuh dan berkembang seperti sedia kala,
ternyata malah dijadikan pohon-pohon untuk pertaninan. Sehingga, hutan-hutan
tersebut tumbuh, tetapi hanya dengan satu jenis pohon. Tentu saja hal negatif
akan mempengaruhi hewan-hewan yang hidup disana sebagai habitatnya.
Selain itu pula, tisu juga
memiliki dampak negatif. Yaitu zat kimia yang terkandung dalam kertas tisu
dapat berpindah ke makanan. Zat tersebut adalah klor untuk memutihkan kertas
yang bakal jadi tisu. Diketahui klor dapat memicu kanker karena sifatnya
karsinogenetik.
Oleh karena itu, ayo kita beralih
dari tisu ke sapu tangan atau pun handuk kecil. Selain mudah dibawa-bawa karena
ringan, sapu tangan atau handuk kecil jika kotor dapat dicuci kembali oleh kita
dan mudah kering. Memang sih, tidak
sepraktis tisu, tapi setidaknya kita diam-diam sudah membantu alam bangkit
kembali. Satu orang saja yang melakukan kebaikan, maka setidaknya bisa
mengurangi produksi tisu massal. Apalagi kita secara intensif mengajak
teman-teman, keluarga, saudara untuk menggunakan sapu tangan.
Semoga
bermanfaat :)
Sumber :
m.kompasiana.com/khoirurrohmah/ada-apa-dibalik-penggunaan-tisu_54f910cca33311ed068b458b
Kayu daun lebar (kayu keras) yang biasa digunakan pada pembuatan kertas yaitu kayu pohon Akasia sedangkan kayu daun jarum (kayu lunak) yaitu kayu pohon Pinus. Kayu lunak yang memiliki panjang dan kekasaran lebih besar digunakan untuk memberi kekuatan pada kertas. Kayu keras lebih halus dan kompak sehingga menghasilkan permukaan kertas yang halus. Kayu keras juga lebih mudah diputihkan hingga warnanya lebih terang karena memiliki lebih sedikit lignin. Kertas umumnya tersusun atas campuran kayu keras dan kayu lunak untuk mencapai kekuatan dan permukaan cetak yang diinginkan pembeli. Jasa Penulis Artikel Pabrik penerima limbah kardus
BalasHapus